Tips Budidaya Wijen yang Efektif dan Efisien

April 14, 2016 - Tips Budidaya / Uncategorized

Pada budidaya wijen perkembangbiakan tanaman dilakukan secara generatif, yaitu dengan biji. Agar hasil panen budidaya wijen yang diperoleh nantinya optimal, pemilihan biji untuk benih budidaya wijen harus dilakukan dengan benar. Biji budidaya wijen yang dipilih hendaknya merupakan benih yang berkualitas dan berasal dari varietas unggul yang memiliki tingkat produksi yang tinggi serta tahan terhadap serangan hama dan penyakit.

Ada sejumlah kriteria dalam memilih biji untuk digunakan sebagai benih budidaya wijen, yakni:

1. Berasal dari tanaman budidaya wijen yang baik pertumbuhannya, berbatang atau berbuah banyak.

2. Berasal dari buah budidaya wijen yang sehat, tidak terserang hama atau penyakit.

3. Biji yang dipilih untuk budidaya wijen hendaklah bersih, bebas dari segala kotoran

4. Biji yang dipilih untuk budidaya wijen haruslah utuh, tidak cacat atau luka. Biji yang cacat pada umumnya sulit tumbuh. Jika dapat tumbuh, biasanya mutu bibit jelek.

5. Biji yang dipilih untuk budidaya wijen tidak boleh biji yang berkeriput. Untuk memisahkan biji yang keriput, biji direndam dalam air. Biji-biji yang tenggelam adalah biji yang baik,sedangkan biji yang mengambang adalah biji yang keriput.

6. Benih budidaya wijen tidak tercampur dengan varietas yang lain. Macam varietas yang digunakan perlu disesuaikan dengan tujuan pertanaman dan ketersediaan air di lahan budidaya wijen. Mengingat masing-masing mempunyai kanopi dan umur yang berbeda. Bila jangka waktu ketersediaan air cukup panjang dapat dibudidayakan varietas dalam.

7. Benih budidaya wijen diambil dari areal pertanaman yang seragam, sehat dengan daya kecambah lebih dari 80%. Kebutuhan benih budidaya wijen untuk pertanaman monokultur sekitar 3-8 kg/ha, tergantung jarak tanam. Umur tanaman berkisar antara 75-150 hari.

Pengadaan benih budidaya wijen dapat dilakukan sendiri atau dengan cara membeli. Jika dilakukan sendiri, pengadaan benih budidaya wijen dilakukan dengan memilih tanaman yang sehat dan berbuah banyak, kemuadian dipotong dan dipisahkan dengan tanaman lain(dari panenan keseluruhan).

Selanjutnya, biji budidaya wijen dibersihkan dan dijemur. Jika telah mengering, biji dimasukkan ke dalam botol atau kaleng, bagian atas dilapisi dengan abu agak tebal, dan ditutup. Wadah juga dapat berupa kantong plastik, asalkan dapat ditutup rapat.

Pengadaan benih budidaya wijen juga dapat dilakukan dengan cara membeli di toko-toko pertanian. Sebaiknya dipilih benih budidaya wijen yang bersertifikat, yang lebih terjamin kualitasnya.

Pola Tanam Pada Budidaya Wijen

Budidaya wijen dapat dilaksanakan pada lahan sawah maupun lahan kering. Pada lahan sawah umumnya ditanam pada musim kemarau. Oleh karena itu pada awal pertumbuhannya membutuhkan pengairan yang cukup sampai dengan pengisian polong (umur 60-70 hari), tetapi pengairan tersebut tidak boleh sampai menggenang.

Di lahan kering budidaya wijen umumnya ditanam pada musim penghujan. Tanaman budidaya wijen selain ditanam monokultur juga dapat ditumpangsarikan dengan tanaman semusim lain seperti padi gogo, jagung, kacang-kacangan, jarak, dll. Adanya tanaman budidaya wijen dalam pola tanam juga bermanfaat untuk menekan nematoda.

Jarak tanam di lahan budidaya wijen bervariasi (10-25) cm x (30-75) cm, tergantung dari varietas tanaman. Varietas genjah lebih rapat dibanding varietas dalam, begitu pula semakin sedikit percabangannya ditanam semakin rapat.
Penanaman di lahan budidaya wijen dengan tugal sedalam 2-4 cm, tiap lubang tanam diisi 5 biji, bila disebar keperluan benih dapat mencapai 4 kali lipat. Untuk memudahkan penanaman di lahan budidaya wijen, biji dicampur dengan abu atau pasir halus.

Pemeliharaan Tanaman di Lahan Budidaya Wijen

Penyulaman di lahan budidaya wijen dilakukan 6 hari setelah tanam. Penyulaman di lahan budidaya wijen dilakukan dengan tujuan untuk mengganti bibit tanaman yang rusak atau pertumbuhannya terlihat tak optimal.
Tanaman budidaya wijen mudah hidup bila dipindah, sehingga memungkinkan menggunakan bahan tanaman untuk menyulam dari lubang tanam lain yang tumbuh lebih dari dua tanaman. Untuk sistem ini sebaiknya penyulaman dilaksanakan 15-20 hari setelah tanam (HST).

Penjarangan di lahan budidaya wijen dilakukan 15-20 HST, sehingga tinggal 2 tanaman per lubang tanam. Penyiangan dilakukan bila gulma telah mengganggu dan diupayakan sampai dengan umur 40 HST bebas dari gangguan gulma. Sambil menyiang, tanaman dibumbun. Diupayakan agar pertananam tidak tergenang walaupun sehabis hujan. Oleh karena itu, sistem drainase dan pengairan di lahan budidaya wijen harus diatur dengan baik.

Pemupukan di lahan budidaya wijen dilakukan untuk memastikan ketersediaan unsur hara yang diperlukan tanaman wijen untuk menopang pertumbuhannya tercukupi.

Dosis pemupukan di lahan budidaya wijen per hektarnya adalah sebanyak 100 kg urea. Sepertiga dosis diberikan bersamaan dengan tanam, sisanya diberikan pada umur 4-5 minggu setelah tanam. Pemberian pupuk urea di lahan budidaya wijen dapat dilakukan dengan cara ditugal sedalam 5-7,5 cm dengan jarak 5 cm dari lubang tanam. Pupuk urea yang telah diletakkan dalam lubang harus ditutup. Pupuk P dan K dapat ditambahkan bila daerah tersebut diketahui memerlukan hara tersebut.

Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Budidaya Wijen

Gangguan hama dan penyakit pada tanaman budidaya wijen merupakan salah satu kendala yang cukup pelik dalam usaha pertanian, termasuk pada budidaya wijen.

Keberadaan hama dan penyakit pada budidaya wijen merupakan faktor yang menghambat pertumbuhan tanaman dan pembentukan hasil. Serangannya pada tanaman dapat datang secara mendadak dan dapat bersifat ekplosif (meluas) sehingga dalam waktu yang relatif singkat sering kali dapat mematikan seluruh tanaman dan menggagalkan panen.

Pemberantasan hama dan penyakit secara total tidak mungkin dapat dilakukan karena perkembangannya yang sangat cepat dan sulit dikontrol. Namun, dengan pengamatan yang baik di lapangan sejak awal penanaman sampai panen, serangan hama dan penyakit di lahan budidaya wijen dapat ditekan.

Hama pada budidaya wijen adalah binatang yang dianggap dapat mengganggu atau merusak tanaman dengan memakan bagian tanaman yang disukainya, misalnya; serangga (insekta), cacing (neatoda), binatang menyusui, dan lain-lain. Penyakit yang menyerang tanaman budidaya wijen bukan disebabkan oleh binatang, melainkan oleh makhuk mikroskopis, misalnya bakteri, virus, cendawan(jamur), dan lain-lain.

Hama dan penyakit dapat menyerang pada bagian-bagian tertentu dari tanaman budidaya wijen, misalnya daun, akar, batang, buah (polong), dan biji.

Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan yang luas tentang hama dan penyakit yang menyerang tanaman wijen serta gejala-gejalanya, dan obat-obatan yang efektif digunakan.

Pengendalian secara preventif atau langkah pencegahan terhadap hama dan penyakit budidaya wijen dilakukan dengan menanam jenis atau varietas tanaman yang tahan atau resisten terhadap serangan beberapa hama atau penyakit, pergiliran tanaman, penanaman menurut musim, pengolahan tanah, secara baik, sistem tumpang sari, dan penyemprotan pestisida secara berkala dan teratur.

Pengendalian hama dan penyakit budidaya wijen secara preventif sangat dianjurkan karena lebih mudah, murah dan aman.

Panen dan Pasca Panen Budidaya Wijen

Panen budidaya wijen paling baik dilakukan bila 2/3 dari polong buah sudah berwarna hijau kekuningan. Penguningan dimulai dari polong-polong yang berkedudukan di bawah. Bila terlambat polong akan pecah, bila jatuh dan tidak lagi dapat diambil.

Panen budidaya wijen paling baik dilakukan bila 2/3 dari polong buah sudah berwarna hijau kekuningan. Foto: darisjati.wordpress.com

Pemanenan hasil budidaya wijen yang dilakukan saat polong mulai pecah, sebaiknya menggunakan sabit bergerigi, pelan-pelan batang dipegang dan dipotong 10-15 cm di bawah kedudukan buah.

Posisi batang masih tetap tegak, kemudian dibalik agar biji dalam polong yang sudah pecah jatuh ke tempat yang sudah dipersiapkan. Pada kondisi yang sangat panas dan kering proses penuaan kadang-kadang tidak begitu jelas. Polong-polong yang berwarna hijau langsung cokelat, kering, dan pecah.

Batang wijen sebagai hasil panen diikat, masing-masing ikatan bergaris tengah sekitar 10-15 cm, kemudian dijemur dalam kedudukan berdiri. Di bawah tempat penjemuran hasil budidaya wijen diletakan tikar/tempat menampung agar biji budidaya wijen yang jatuh agar mudah dikumpulkan.

Nampak polong-polong sudah pecah, ikatan batang wijen dibalik yaitu ujungnya terletak dibawah sehingga biji keluar.

Untuk mendorong biji keluar, batang dipukul-pukul dengan tongkat dan kalau belum semua biji dapat keluar, ikatan batang tadi dijemur ulang dengan kedudukan berdiri seperti semula dan biji dikeluarkan lagi sampai habis. Biji yang sudah keluar dari polong umumnya dijemur selama 1 hari penuh agar kandungan kadar air kurang dari 7 %.

Demikian tips lengkap cara budidaya wijen dari pembenihan hingga pemanenan yang kami sarikan untuk mereka yang tertarik pada budidaya wijen (dari berbagai sumber).