Penanganan Penyakit Yang Menyerang Budidaya Kalkun

September 21, 2015 - Tips Budidaya / Uncategorized

Budidaya kalkun tak berbeda dengan budidaya bidang peternakan lain yang tak lepas dari risiko dan ancaman serangan penyakit. Oleh karenanya, pelaku budidaya kalkun harus mampu mengenali sejak dini gejala penyakit yang hinggap di tubuh hewan peliharaannya. Pelaku budidaya kalkun juga harus mampu melakukan penanganan awal terhadap gejala penyakit yang menyerang unggasnya.

Penanganan awal yang tepat dapat mencegah kerugian akibat kematian hewan dan penyebaran penyakit di kandang budidaya kalkun. Selaini itu, pelaku budidaya kalkun juga harus memahami bagaimana cara mengantisipasi serangan penyakit. Sehingga potensi kerugian yang lebih besar dapat terhindarkan dan usaha budidaya kalkun yang dijalankan dapat memberi keuntungan.

Penyakit Pada Budidaya Kalkun

Pada budidaya kalkun penyakit yang umum menyerang unggas peliharaan antara lain pilek atau hidung berlendir atau istilah medisnya infectious bronchitis (IB), cacar atau bercak merah, lumpuh layu, kolera, blackhead atau histomoniasis, serta flu burung atau avian influenza. Pada kesempatan ini kita akan bahas satu persatu mengenai penyakit yang biasa menyerang budidaya kalkun tersebut. Pelaku budidaya kalkun dapat mengetahui pula langkah awal penanganan dan cara mengantisipasinya.

Pertama, pilek atau hidung berlendir atau IB yang menyerang pada budidaya kalkun mengakibatkan hewan yang terkena penyakit ini hidungnya keluar lendir, sayapnya menggantung dan nafasnya berbau. Lama kelamaan, kalkun akan mengalami penurunan nafsu makan. Jika sudah parah, maka kalkun harus disuapi agar tetap bisa bertahan hidup.

Sebagai pencegahan, lokasi kandang budidaya kalkun harus kering, tidak lembab. Usahakan juga agar di sekitar kandang budidaya kalkun tidak terdapat selokan yang mempunyai air kotor dan tergenang. Penularan penyakit ini terjadi lewat gigitan nyamuk, lalat dan kontaminasi air minum. Jika terlihat tanda-tanda tersebut, kalkun sakit segera dipisahkan dan diberi obat seperti tetrachlor.

Pada budidaya kalkun penyakit yang umum menyerang unggas peliharaan antara lain pilek atau hidung berlendir atau istilah medisnya infectious bronchitis (IB), cacar atau bercak merah, lumpuh layu, kolera, blackhead atau histomoniasis, serta flu burung atau avian influenza. Foto: anakankalkun.wordpress.com

Kedua, penyakit cacar atau bercak merah yang disebabkan oleh virus familia poxviridae dan genus Avipoxvirus. Kalkun yang terserang dipenuhi bercak-bercak merah diseluruh tubuhnya. Pengobatan dan pencegahan dengan vaksin dilakukan setelah terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter hewan. Sebagai obat tradisional, kita bisa membuat ramuan dari bensin yang dicampur oli (baru). Campuran ini kita kuaskan pelan-pelan ke permukaan tubuh yang terkena bercak-bercak cacar. Beberapa peternak budidaya kalkun mengatakan cara tradisional ini cukup ampuh.

Ketiga, penyakit lumpuh yang disebabkan karena konsumsi pakan berlebih juga menjadi momok bagi budidaya kalkun. Kelebihan pemberian pakan ini mengakibatkan kalkun mengalami obesitas. Kalkun muda yang tulangnya belum kuat tidak akan mampu menahan berat tubuhnya. Untuk itu, pemberian makanan harus terkontrol dengan baik. Untuk pencegahan, kita bisa memberikan konsentrat AD1 (untuk kekuatan tulang) pada ransum makanan kalkun muda. Kelumpuhan pada kalkun muda juga bisa diakibatkan karena konsumsi daun pepaya. Kalkun yang terserang akan mengalami lumpuh total dan jari-jarinya bengkok k edalam. Sebagai pencegahan, kalkun usia dibawah tiga bulan sebaiknya tidak kita beri daun pepaya.

Keempat penyakit kolera yang dapat diketahui dari pial kalkun yang mengalami pembengkakan. Jika kalkun terserang kolera, peternak budidaya kalkun bisa mengobatinya dengan antibiotik seperti tetrasiklin atau streptomycin.

Kelima adalah penyakit blackhead atau histomoniasis dimana hewan budidaya kalkun yang terserang penyakit ini menunjukkan gejala-gejala susah makan, berat badan turun dan kotorannya berwarna kuning. Penyebab penyakit yang dapat menyerang budidaya kalkun ini adalah protozoa Histomonas meleagridis. Kalkun yang terserang sebaiknya dikarantina agar tidak menular ke kalkun lain. Sebagai tindakan pengobatan, peternak budidaya kalkun dapat menggunakan Emtryl, yang mengandung dimetridazole.

Keenam, serangan avian influenza atau flu burung yang dikenal sebagai penyakit yang paling ditakuti dan menjadi momok bagi pelaku budidaya kalkun. Bagaimana tidak, jika seekor saja kalkun terkena flu burung dalam semalam virus ini dapat mematikan seluruh unggas di kandang budidaya kalkun. Guna mencegah penularan virus flu burung yang menyerang budidaya kalkun diperlukan biosecurity.

Sebagai langkah awal, pastikan dulu bahwa kalkun yang anda beli sudah divaksin dan berasal dari peternakan budidaya kalkun yang bisa dipertanggungjawabkan dari sisi kesehatannya. Fotopixcooler.com

Vaksin untuk H5N1 ini sebenarnya disediakan gratis oleh pemerintah. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak mem-vaksin ternak anda.

Langkah selanjutnya, selalu menyemprot areal kandang budidaya kalkun dan lokasi-lokasi yang menjadi akses ke kandang. Penyemprotan dilakukan dengan desinfektan dua kali sehari, yaitu pagi dan sore. Kemudian, setiap pintu masuk lokasi kandang budidaya kalkun harus kita beri larutan desinfektan dalam ember atau baskom. Manusia yang ingin memasuki kandang kita persilahkan untuk mencelupkan tangan dan kaki mereka dalam larutan tersebut.

Salah satu desinfektan yang cukup ampuh memberantas virus flu burung, dan beberapa penyakit lainnya, adalah Benzalkonium Chloride. Obat ini bisa dibeli di poultry shop dengan nama dagang yang bermacam-macam dan harganya terjangkau.

Peningkatan Kesehatan Unggas Pada Budidaya Kalkun

Pencegahan penyakit yang menyerang budidaya kalkun dapat dicegah sejak awal dengan memberikan vaksin. Pada budidaya kalkun pemberian dosis vaksin ini harus dilakukan sesuai aturan dan tepat dosisnya. Vaksin untuk kalkun sama dengan vaksin untuk unggas lain. Aturan dan dosisnya bisa melihat pada kemasan. Lebih baik lagi jika kita sebelumnya berkonsultasi dengan dinas kesehatan ternak.

Untuk vaksin, yang bisa digunakan adalah Vaksin ND Hitchner B1 dan vaksin ND LASOTA yang diberikan dengan cara Suntik / air minum mencegah penyakit ND . Berikan juga obat cacing yang di ulang 2-3 bulan sekali untuk mencegah cacingan.

Selain vaksin, banyak peternak budidaya kalkun yang lebih suka mengobati kalkunnya dengan obat-obatan herbal, dan sebagian lagi dengan obat yang biasa dikonsumsi oleh manusia. Herbal sebagai tindakan pencegahan, dilakukan peternak budidaya kalkun saat musim pancaroba. Herbal ini dinilai lebih ampuh dan murah. Bahan-bahannya pun mudah diperoleh.

Selain vaksin, banyak peternak budidaya kalkun yang lebih suka mengobati kalkunnya dengan obat-obatan herbal, dan sebagian lagi dengan obat yang biasa dikonsumsi oleh manusia. Foto: republicanherald.com

Untuk membuat ramuan herbal yang bermanfaat bagi kesehatan unggas di dalam budidaya kalkun ini kita siapkan saja jahe dan kencur sesuai kebutuhan. Kedua bahan ini kita cuci, kupas dan digiling halus atau diparut. Setelah campuran siap, suapkan ke kalkun muda (umur kira-kira 4 bulan) dengan dosis seperempat sendok teh. Sementara untuk kalkun kecil, ramuan tersebut kita campurkan ke dalam pakan. Saat musim penghujan, ramuan ini bisa menambah daya tahan dan mengusir berbagai penyakit yang berpotensi menyerang budidaya kalkun.

Selain menggunakan herbal, peternak budidaya kalkun menggunakan juga obat untuk manusia seperti obat-obatan untuk flu dan masuk angin. Obat ini diberikan setengah dosis saja. Penggunaan obat manusia ini juga ada gunanya bagi kita. Jika kalkun suatu saat kita potong, maka dagingnya aman untuk dikonsumsi. Sedangkan kalkun yang mengkonsumsi obat-obatan khusus unggas, tidak boleh begitu saja dipotong dan dikonsumsi.

Demikian sekilas informasi mengenai sejumlah penyakit yang umum menyerang budidaya kalkun juga cara penanganan awal dan cara-cara mengantisipasinya (dari berbagai sumber).