Mengenal Manfaat dan Cara Budidaya Edamame Si Kedelai Jepang

May 6, 2015 - Tips Budidaya / Uncategorized

Budidaya edamame adalah salah satu usaha bidang pertanian yang memiliki potensi yang luar biasa. Budidaya edamame juga dapat dikembangkan untuk tujuan ekspor karena selain sebagai sumber makanan kesehatan, edamame juga dapat diolah menjadi bahan baku produk kesehatan dan kecantikan kulit dan wajah.

Edamame, dalam bahasa Jepang berasal dari dua suku kata, yakni eda yang terjemahannya adalah cabang dan mame yang berarti kacang. Di China kedelai ini disebut mao dou atau kacang berambut. Sementara di Eropa, kedelai jenis ini dikenal sebagai vegetable soybean, green soybean, dan sweet soybean.

Budidaya edamame adalah salah satu usaha bidang pertanian yang memiliki potensi ekspor yang luar biasa. Foto: eat-spin-run-repeat.com

Hasil budidaya edamame produksi Indonesia telah berhasil dipasarkan hingga ke Jepang. Foto: www.namayasai.co.uk

Budidaya edamame di Indonesia berawal dari penelitian di tahun 1990 di Gadog, Bogor Jawa Barat dan terus berkembang di tahun-tahun berikutnya. Perkembangan budidaya edamame di Indonesia dibuktikan dengan cukup beragamnya varietas edamame yang coba ditanam di tanah air, seperti Ocunami, Tsurumidori, Taiso, Tsuronoko, serta Ryokkoh. Hasil budidaya edamame produksi Indonesia telah berhasil dipasarkan hingga keJepang.

Sebuah laporan menunjukkan bahwa ekspor hasil budidaya edamame asal Indonesia ke Jepang pada tahun 2005 sebesar 665 ton. Kebutuhan pasar edamame di Jepang berkisar antara 150.000 hingga 160.000 ton per tahun dimana sekitar 70.000 ton dipenuhi dari impor. Artinya ekspor hasil budidaya edamame Indonesia baru mencukupi 0,96 persen kebutuhan impor Jepang.

Manfaat Budidaya Edamame

Budidaya edamame atau kedelai Jepang atau kedelai sayur berpotensi besar dikembangkan di Indonesia sebagai alternatif sayuran serta makanan kesehatan. Edamame memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dengan kedelai yang umum dikenal. Edamame memiliki biji yang lebih besar dengan tekstur yang lebih lembut dan rasa yang lebih manis.

Edamame lebih mudah dicerna dan cocok dikonsumsi sebagai makanan ringan yang menyehatkan. Edamame kaya akan kandungan nutrisi yang dibutuhkan tubuh, seperti kalsium, protein, zat besi, kalori, lemak, fosfor, vitamin B2, B1, serat, isoflavon, beta karoten, dan 9 jenis asam amino esensial.

Hasil budidaya edamame yang diolah menjadi jus edamame dapat digunakan sebagai minuman pendamping ASI pada balita. Jus edamame lebih aman dicerna oleh balita yang alergi terhadap susu formula atau susu sapi. Jus edamame cocok dikonsumsi oleh vegetarian yang tidak mengkonsumsi daging dan produk turunan dari hewan seperti telur, susu, keju, dan lain sebagainya.

Jus edamame juga baik bagi penderita autisme yang memang dilarang mengkonsumsi susu sapi karena jus edamame tidak mengandung kasein dan glutein yang berbahaya bagi penderita autisme. Dengan mengkonsumsi jus edamame penderita autisme dapat memperoleh asupan protein, vitamin, dan mineral yang berguna bagi kesehatan tubuh.

Hasil budidaya edamame juga bermanfaat mengurangi kadar kolesterol darah. Edamame dapat mengurangi jumlah kolesterol jahat atau low density lipoprotein (LDL) dan meningkatkan jumlah kolesterol baik atau high density lipoprotein (HDL). Edamame mampu mencegah arteriosklerosis, hipertensi, jantung koroner, kanker, strok, diabetes melitus, migrain, osteoporosis, penuaan dini, serta menghambat menopouse.

Cara Budidaya Edamame

Budidaya edamame cocok dilakukan di Indonesia yang memiliki iklim tropis dengan temperatur udara yang cukup panas dengan curah hujan yang relatif tinggi dengan dengan kondisi tanah yang subur, gembur, serta kaya bahan organik. Budidaya edamame akan mendapat hasil optimal jika ditanam pada ketinggian tak lebih dari 500 meter di atas permukaan laut. Budidaya edamame dapat dilakukan di tanah alluvial, regosol, grumosol, latosol, dan andosol, serta keasaman tanah berkisar antara 5,8 hingga 7.

Kebutuhan benih untuk 1 hektar lahan budidaya edamame adalah sekitar 720 g. Sebelumnya, lahan budidaya edamame ditulari (inokulan) dulu dengan bakteri bintil akar. Caranya dengan mencampur benih edamame dengan tanah bekas tanaman kedelai dengan perbandingan 1:40. Selanjutnya tanah digemburkan dan dibuat bedengan berukuran 2 x 10 meter dengan drainase diantara bedeng sebagai saluran pembuangan air.

Kebutuhan benih untuk 1 ha lahan budidaya edamame adalah sekitar 720 g

Budidaya edamame dapat dilakukan di tanah alluvial, regosol, grumosol, latosol, dan andosol, serta keasaman tanah berkisar antara 5,8 hingga 7. Foto: www.ethicurean.com

Setelah dua hari, lahan budidaya edamame diberi pupuk DS dengan perbandingan 20 gram per meter persegi. Benih edamame ditanam dengan cara ditugal dengan jumlah 3 butir per lubang serta jarak tanam sekitar 20 x 20 centimeter. Lubang tugalan ditutup dan disiram air.

Selanjutnya, penyiraman dapat dilakukan dua kali seminggu dan dapat ditambah jika matahari bersinar terik. Pemupukan dilakukan tiga minggu setelah penanaman bersamaan dengan kegiatan penyiangan rumput dan tanaman penganggu di lahan budidaya edamame. Pupuk yang digunakan untuk budidaya edamame antara lain urea sebanyak 50 hingga 100 kilogram per hektar, PZOS sebanyak 45 hingga 90 kilogram per hektar, K20 sebanyak 25 hingga 50 kilogram atau ZK sebanyak 50 hingga 100 kilogram per hektar.

Pemanenan dalam budidaya edamame dapat dilaksanakan setelah 63 hingga 68 hari setelah tanam (HST). Pada saat tersebut hasil budidaya edamame sudah dapat dipanen untuk keperluan sayur, sementara jika menginginkan polong yang tua dan berisi padat penuh pemanenan dailakukan pada umur 90 HST. Pemanenan di satu lahan budidaya edamame tidak dapat dilakukan serentak melainkan dipilih polong yang cukup besar dan berisi.