Mencari Rupiah Dari Budidaya Tanaman Pala

April 23, 2015 - Tips Budidaya / Uncategorized

Budidaya tanaman pala (Myristica fragnans Houtt) yang merupakan tanaman asli dari gugus Kepulauan Banda dan Maluku memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Budidaya tanaman pala di Indonesia, selain di Banda dan Maluku telah menyebar ke pulau-pulau lain di nusantara, seperti Sulawesi dan Irian Jaya. Budidaya tanaman pala bahkan telah menyebar hingga ke wilayah paling barat Indonesia, yakni Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.

Budidaya tanaman pala (Myristica fragnans Houtt) yang merupakan tanaman asli dari gugus Kepulauan Banda dan Maluku memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Foto: hansdw08.student.ipb.ac.id

Berdasarkan penelitian para ahli botani, tanaman pala memiliki sekitar 200 species yang semuanya tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman pala memiliki tinggi pohon sekitar 10 hingga 18 meter dengan mahkota pohon yang meruncing ke atas. Daun tanaman pala berwarna hijau mengkilat. Ukuran daunnya mulai dari 5 hingga 15 centimeter dengan lebar 3 hingga 7 centimeter.

Buah tanaman pala berbentuk bulat dengan warna hijau kekuning-kuningan. Buah pala seukuran bola pingpong tetapi ada juga yang besar hingga menyerupai bola tenis. Buah pala memiliki daging buah yang tebal dengan rasa yang asam. Buah pala yang terlalu masak akan terbelah. Biji buah pala berbentuk lonjong dan agak bulat seukuran jempol dengan warna coklat dan terlihat mengkilat. Kernel biji pala berwarna keputih-putihan dan fulinya berwarna merah gelap dan kadang putih kekuningan. Fuli yang membungkus biji pala ini sekilas mirip jaring.

Budidaya Tanaman Pala dan Pemanfaatannya

Budidaya tanaman pala dilakukan di daerah beriklim tropis dengan suhu udara antara 18 hingga 34 derajat celcius. Budidaya tanaman pala membutuhkan iklim yang relatif stabil, tak terlalu ekstrim, yakni dengan curah hujan antara 2000 hingga 3000 milimeter per tahun dimana hujan terjadi sekitar 4 hingga 6 bulan.

Budidaya tanaman pala sebaiknya dilaksanakan di daerah yang memiliki ketinggian antara 0 hingga 700 meter di atas permukaan laut. Pada ketinggian lebih dari ini, budidaya tanaman pala tak dapat dilakukan dengan maksimal dan produksi buah juga tak akan optimal. Lokasi budidaya tanaman pala hendaknya berada di lahan yang subur, gembur, dengan struktur tanah lempung berpasir, pH tanah antara 5,5 hingga 6,5, serta didukung oleh drainase yang baik.

Hasil budidaya tanaman pala yang dikenal sebagai rempah-rempah memiliki banyak sekali produk turunan. Foto: baktoflavors.ashcomp.biz

Hasil budidaya tanaman pala yang dikenal sebagai rempah-rempah memiliki banyak sekali produk turunan. Biji dan fuli hasil budidaya tanaman pala dapat menghasilkan minyak etheris dan lemak nabati. Biji dan fuli dari pala juga dapat dipergunakan pada industri pembuatan makanan kaleng, industri pengawetan ikan, industri pembuatan sosis, dan sebagainya. Minyak tanaman pala hasil penyulingan dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk industri obat-obatan, sabun, parfum, dan lain-lain. Daging buah pala dapat diolah menjadi manisan atau asinan.

Budidaya tanaman pala di Indonesia merupakan penyumbang sekitar 60 persen kebutuhan pala dunia. Sementara permintaan dunia terhadap hasil budidaya tanaman pala cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kualitas budidaya tanaman pala asal Indonesia dapat dikatakan yang terbaik di dunia karena memiliki keunggulan dalam hal rendemen minyak yang tinggi serta aroma yang khas.

Tips Mudah Budidaya Tanaman Pala

Perbanyakan pada budidaya tanaman pala dapat dilakukan dengan tiga cara, yakni melalui biji, cangkok, dan okulasi. Perbanyakan tanaman pala dengan biji sudah jarang dilakukan karena waktunya lebih lama dan persentase tanaman pala jantan yang tak berbuah juga besar.

Pada budidaya tanaman pala, pencangkokan dapat menghasilkan tanaman baru yang memiliki sifat-sifat yang umumnya persis induknya. Pohon yang dicangkok sebaiknya sudah berumur 12 hingga 15 tahun, produksinya tinggi, dan bebas hama penyakit. Mencangkok sebaiknya dilakukan pada musim hujan karena jika dilakukan pada musim kemarau pohon harus selalu disiram dengan teratur.

Sementara perbanyakan budidaya tanaman pala dengan metode okulasi sebaiknya menggunakan tanaman pala jenis Myristica sucedona BL untuk batang bagian bawah dan Myristica fragnans Houtt untuk mata tunasnya. Syarat okulasi adalah usia pohon minimal satu tahun dan diameter batang bagian bawah dan batang mata tunas di bagian atas jangan jauh berbeda agar penyambungannya mudah.

Sebelum dilakukan penanaman di lahan budidaya tanaman pala, lubang tanam harus telah dipersiapkan sebelum masa penanaman. Idealnya lubang tanam memiliki ukuran 60 x 60 x 60 centimeter. Pisahkan tanah galian atas dengan tanah galian bagian bawah. Setelah 1 hingga 2 minggu kemudian masukkan tanah galian ke dalam lubang dengan cara memasukkan tanah galian bagian bawah terlebih dahulu. Sementara tanah galian bagian atas dicampur dengan pupuk kandang.

Dua atau tiga minggu kemudian, barulah penanaman di kebun budidaya tanaman pala dilakukan. Jarak tanam antar pohon pala sebaiknya adalah 9 x 9 meter. Tanaman pala memerlukan pohon pelindung guna melindungi dari sinar matahari dan hembusan angin kencang. Tanaman pelindung yang dapat dipilih antara lain tanaman kelapa, duku, rambutan, mangga, dan tanaman buah lainnya. Ketika tanaman pala berusia 4 atau 5 tahun tanaman pelindung dapat dipangkas atau dijarangkan.

Kebun budidaya tanaman pala akan terus menghasilkan hingga tanaman berumur 60 atau bahkan 70 tahun. Foto: balittro.litbang.pertanian.go.id

Hasil budidaya tanaman pala mulai terlihat pada usia 7 tahun dan pada usia 10 tahun pemanenan dapat dilakukan. Produksi budidaya tanaman pala akan terus meningkat pada umur 25 tahun. Kebun budidaya tanaman pala akan terus menghasilkan hingga tanaman berumur 60 atau bahkan 70 tahun.