Kendala Dan Cara Pemanenan Hasil Budidaya Lada

September 18, 2015 - Tips Budidaya / Uncategorized

Panen hasil budidaya lada biasanya dapat dilakukan setelah lada berusia 3 atau 4 tahun. Pemanenan hasil budidaya lada dapat terus berlangsung hingga tanaman lada berumur 15 tahun atau lebih. Buah lada pada mulanya berwarna hijau muda, kemudian berubah menjadi hijau tua, dan bila sudah tua berwarna kuning sampai kemerah-merahan.

Dalam perjalanannya, budidaya lada tak selalu mulus dan selalu memperoleh laba. Oleh karena itu pelaku budidaya lada seyogianya tak hanya siap dengan laba tetapi juga sanggup dan siap menerima risiko serangan penyakit dan hama. Tetapi tentu saja sanggup dan siap bukan berarti pasrah namun juga mampu dan siaga mengendalikan peyebaran hama dan penyakit yang menyerang kebun budidaya lada.

Pemanenan hasil budidaya lada dapat terus berlangsung hingga tanaman lada berumur 15 tahun atau lebih. Foto: wartaagro.net

Hama Dan Penyakit Di Kebun Budidaya Lada

Pada budidaya lada serangan hama dan penyakit menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya penurunan produksi. Hama utama yang menyerang kebun budidaya lada adalah penggerek batang, pengisap bunga, dan pengisap buah.

Penggerek batang lada (Lophobaris piperis) merupakan hama yang paling merugikan dan serangannya merusak hasil budidaya lada. Larvanya menggerek batang dan cabang. Gejala awal berupa layu dan daun menguning kemudian bagian yang digerek mengering dan mudah patah. Serangan berat dapat menyebabkan tanaman mati. Stadia dewasa menyerang pucuk, bunga, dan buah sehingga produksi dan kualitas buah menurun.

Hama pengisap bunga (Diconocoris hewetti) merusak bunga dan tandan bunga baik pada stadia nimfa maupun dewasanya. Gejala serangan ringan pada kebun budidaya lada berupa kerusakan tandan, salah bentuk, dan buah menjadi sedikit. Bila serangan berat menyebabkan bunga rusak, tangkai hitam, dan bunga gugur.

Hama pengisap buah (Dasynus piperis) aktif pada waktu pagi dan sore hari, sedangkan siang bersembunyi pada bagian dalam tajuk tanaman. D. piperis menyerang hampir di seluruh sentra lada di Indonesia dan menyebabkan kerusakan buah 14,72-36%. Hama ini merusak pada semua stadia pertumbuhan dengan cara mengisap cairan dari bunga, buah, pucuk muda, dan tangkai daun. Gejala kerusakan berupa bercak kehitaman pada buah, buah menjadi hampa. Dan buah muda berguguran sehingga tandan buah menjadi kosong.

Pada budidaya lada serangan hama dan penyakit menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya penurunan produksi. Foto: www.batasnegeri.com

Sedangkan penyakit utama lada adalah penyakit kuning, busuk pangkal batang (BPB), dan penyakit keriting/kerdil. Penyakit kuning disebabkan oleh keadaan yang kompleks berupa serangan nematoda (Radopholus similis dan Meloidogyne incognita), jamur parasit (Fusarium oxysporum), tingkat kesuburan tanah yang rendah, serta kelembaban atau kadar air tanah rendah.

Penyakit ini banyak dijumpai pada kebun budidaya lada di wilayah Bangka dan Kalimantan dan menyebabkan kehilangan hasil sebesar 80%. Penyakit kuning diawali serangan nematoda R.similis dan M.incognita, luka akibat serangan nematoda memudahkan F.oxysporum menginfeksi tanaman. Adanya serangan nematoda dan jamur juga menyebabkan tanaman peka terhadap kekeringan dan kekurangan unsur hara.

Penyakit busuk pangkal batang disebabkan oleh patogen Phytophthora capsici, penyakit ini dapat menyebabkan kematian tanaman dalam waktu singkat. Gejala khas dari penyakit ini berupa warna biru-kehitaman pada pangkal batang yang kadang disertai dengan terbentuknya lendir. Gejala pada daun berupa bercak hitam bergerigi seperti renda pada bagian tengah atau tepi daun. Gejala ini tampak jelas pada daun segar dan sulit diamati pada daun yang telah mongering atau pada gejala lanjut. Patogen ini juga menyerang buah-buah yang berada dekat dengan permukaan tanah sehingga buah menjadi berwarna hitam dan busuk.

Penyakit keriting/kerdil disebabkan oleh virus seperti pepper yellow mottle virus (PYMV) dan cucumber mosaic virus (CMV). Penyakit ini tidak bersifat mematikan namun dapat menghambat pertumbuhan dan menyebabkan penurunan produksi hasil budidaya lada. Penyakit kerdil ditandai dengan gejala daun muda berukuran kecil sampai keriting berwarna kuning pucat dan belang-belang. Ukuran buah lebih kecil dari buah normal dan serangan berat menyebabkan tanaman tidak berproduksi. Penyebaran penyakit dibantu oleh serangga vektor (Aphis sp., Planococcus sp., dan Ferissia virgata), alat-alat pertanian yang dipakai pada tanaman sakit, serta bibit dari tanaman induk yang terserang.

Strategi pengendalian hama dan penyakit utama yang menyerang kebun budidaya lada dapat dilakukan dengan menerapkan teknik budidaya lada sesuai anjuran, menanam Arachis pintoi sebagai tanaman penutup tanah, dan pengendalian secara hayati yang dipadu dengan kimiawi.

Beberapa agen hayati diketahui dapat mengendalikan penyakit BPB dan penyakit kuning yang menyerang kebun budidaya lada. Trichoderma harzianum dapat mengendalikan serangan BPB, sebaiknya diberikan pada awal tanam yang ditambahkan bahan organik atau potongan alang-alang secara berkala. Pada sekitar tanaman di kebun budidaya lada yang menunjukkan gejala BPB diberi fungsida sistemik atau disiram bubur bordo, selanjutnya dilakukan aplikasi T.harzianum 2-4 minggu kemudian.

Pengendalian hama penggerek batang dan penyakit kuning dapat dilakukan dengan memberikan pestisida berbahan aktif karbofuran 30-50 g/tanaman yang dikombinasikan dengan bahan organik. Pengendalian penyakit kuning juga dapat dilakukan dengan aplikasi kombinasi bahan organik dengan bakteri Pasteria penetrans. Menurut Wiratno et al (2011) minyak serai dapat menyebabkan mortalitas D.hewetti sebesar 47% pada konsentrasi 2,5% dan gabungan minyak serai wangi dan lengkuas (1:1) konsentrasi 2,5% menyebabkan mortalitas sampai 82%.

Hasil Panen Budidaya Lada

Setelah pemanenan di kebun budidaya lada selesai dilakukan, tahap selanjutnya adalah pengolahan hasil panen. Pelaku budidaya lada harus mengetahui dua cara pengolahan lada, baik untuk mendapatkan hasil berupa lada putih maupun untuk mendapatkan hasil berupa lada hitam.

Pelaku budidaya lada yang menghendaki mendapatkan lada putih maka buah lada yang baru saja dipanen dari kebun harus disimpan di dalam karung serta direndam di dalam air yang mengalir. Sesudah direndam kemudian dibersihkan, bijinya dipisahkan dari kulitnya dan tangkai, dengan cara diinjak-injak, kemudian diayak.

Setelah dipisahkan kemudian biji lada direndam kembali dalam air mengalir 1-2 hari sehingga biji menjadi putih bersih. Setelah bersih kemudian biji lada dijemur sampai kering kira-kira 3 hari.

Pelaku budidaya lada harus mengetahui dua cara pengolahan lada, baik untuk mendapatkan hasil berupa lada putih maupun untuk mendapatkan hasil berupa lada hitam.
Foto: jualladahitamputih.blogspot.com

Sementara pelaku budidaya lada yang menghendaki mendapatkan lada hitam maka tak perlu merendam ladanya di dalam air mengalir. Buah lada yang baru dipetik dari kebun budidaya lada Iangsung dijemur dipanas matahari selama kira-kira 2-3 hari. Sambil menjemur buah lada hdipisahkan dari tangkai-tangkainya dan diayak sampai bersih.

Demikian kendala dan cara pengolahan hasil panen budidaya lada semoga bermanfaat (dari berbagai sumber).