Budidaya Jahe Merah Buat Masa Depan Cerah

April 24, 2015 - Tips Budidaya / Uncategorized

Budidaya jahe mera h ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bahan obat-obatan. Jahe merah memiliki rimpang berwarna merah yang tumbuh di dalam tanah. Rimpang jahe merah berukuran lebih kecil dari jahe putih dan jahe kuning namun memiliki aroma yang lebih menyengat dan rasa yang lebih pedas.

Jahe merah memiliki kandungan minyak atsiri yang lebih banyak dari jahe gajah dan jahe sunti. Kadar minyak atsiri yang terkandung dalam jahe merah yakni 3,41 persen, dengan kadar pati 42,74 persen, kadar sari dalam air 19,73 persen, kadar sari dalam alkohol 7,93 persen, kadar serat 6,69 persen, kadar abu 7,56 persen dan kadar fenol 2,77 persen.

Budidaya jahe merah ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bahan obat-obatan. Foto: dqfarm.blogspirit.com

Budidaya jahe merah memiliki keunggulan dalam hal daya tahan yang lebih baik terhadap serangan hama penyakit dibanding jenis jahe lainnya. Foto: siput.web.id

Budidaya jahe merah memiliki keunggulan dalam hal daya tahan yang lebih baik terhadap serangan hama penyakit dibanding jenis jahe lainnya. Budidaya jahe merah juga dapat jadi pilihan karena proses pembusukannya cukup lama sehingga dapat dipasarkan dalam waktu yang panjang.

Budidaya jahe merah adalah budidaya tanaman herbal semusim dengan tinggi tanaman sekitar 40 hingga 60 centimeter. Tanaman jahe merah memiliki batang semu berwarna hijau dengan daun tunggal yang memiliki ujung runcing dan pangkalnya berwarna kemerahan.

Persiapan Budidaya Jahe Merah

Budidaya jahe merah cocok dilaksanakan di Indonesia yang memiliki iklim tropis. Budidaya jahe merah akan optimal jika dilaksanakan di daerah yang berada pada ketinggian antara 300 hingga 800 meter di atas permukaan laut. Budidaya jahe merah sebetulnya dapat dilakukan di daerah dataran yang lebih rendah atau pun di dataran yang lebih tinggi.

Jika budidaya jahe merah dilakukan di daerah yang kurang dari 300 meter di atas permukaan laut maka rentan terkena serangan penyakit layu sementara jika dibudidayakan di dataran tinggi hingga lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut maka pertumbuhan rimpang akan melambat sehingga berdampak pada hasil panen budidaya jahe merah.

Budidaya jahe merah dapat dilakukan di lahan, di dalam polibag, atau pun di dalam karung. Bibit jahe merah yang paling baik adalah rimpang jahe merah berumur paling tidak satu tahun. Bibit didapatkan dari pelaku budidaya jahe merah yang lebih dulu menanam bukan didapat dari membeli jahe merah di pasar.

Pilih bibit yang berukuran besar, segar, kulit rimpang tidak lecet dan terluka, serta bebas hama penyakit. Selanjutnya, potong-potong rimpang hingga dalam satu potong memiliki antara 2 atau 3 mata tunas. Selanjutnya, rendam potongan rimpang bibit budidaya jahe merah ke dalam larutan anti jamur dan perangsang akar.

Sebelum dipindahkan ke lahan budidaya jahe merah, bibit disemai terlebih dahulu pada bedengan dengan media tanam setinggi 10 centimeter. Media semai berisi tanah yang dicampur pupuk kandang yang disiram dua kali sehari. Barulah setelah tunas tumbuh sekitar 2 atau 3 centimeter bibit siap ditanam di lahan, polibag, atau pun karung.

Sebelum dipindahkan ke lahan budidaya jahe merah, bibit disemai terlebih dahulu pada bedengan dengan media tanam setinggi 10 centimeter. Foto: bp4kgresik.wordpress.com

Pemeliharaan dalam Budidaya Jahe Merah

Pada budidaya jahe merah tahap perawatan dan pemeliharaan dari masa penanaman hingga panen berlangsung selama 10 bulan. Tanaman jahe merah perlu disiram setiap hari hingga berumur sebulan setelahnya tanaman jahe merah cukup disiram dua kali sehari. Pemupukan pada budidaya jahe merah dilakukan saat tanaman mencapai usia satu bulan.

Pada budidaya jahe merah tahap perawatan dan pemeliharaan dari masa penanaman hingga panen berlangsung selama 10 bulan. Foto: cara.media

Budidaya jahe merah hanya perlu penyinaran matahari sekitar 30 hingga 40 persen. Oleh karenanya, sebaiknya tanaman jahe merah berada di lokasi yang terlindungi dari sinar matahari, mendapat naungan pohon yang teduh, atau dipasang pelindung panas matahari.

Pada budidaya jahe merah hama yang biasa menyerang antara lain kepik, ulat penggesek akar, dan kumbang. Hama ini menyerang daun tanaman dan akar tanaman jahe. Gulma yang sering menganggu pertumbuhan tanaman jahe merah antara lain rumput teki, ageratum, alang-alang, dan lain sebagainya. Pada budidaya jahe merah penyakit yang biasa menyerang tanaman antara lain penyakit layu bakteri, busuk rimpang, dan bercak daun.