Aneka Manfaat Dan Asal Mula Budidaya Cengkeh

June 19, 2015 - Tips Budidaya / Uncategorized

Sejak ribuan tahun budidaya cengkeh sebagai budidaya tanaman rempah telah menjadi komoditas perdagangan penting antar benua yang melibatkan para penguasa dunia dari masa ke masa. Banyak ahli sejarah dunia yang meyakini budidaya cengkeh yang merupakan tanaman asli asal Maluku Utara yang dikenal oleh dunia sebagai Spice Islands atau Kepulauan Rempah. Dari penemuan arkeologi peradaban Sumeria (peradaban purba di selatan Mesopotamia, tenggara Irak) diketahui cengkeh sangat popular di Syria pada 2400 SM. Ini bukti yang sangat kuat bahwa perdagangan rempah-rempah dari kepulauan Maluku adalah benar-benar purba.

Bangsa Mesir dan Somalia juga tercatat telah memanfaatkan rempah-rempah, baik untuk kuliner maupun pengobatan, sekitar 1500 SM. Semua bukti-bukti ini menunjukkan bahwa perdagangan antara Timur Tengah dan Cina, Asia Tenggara, India, serta Spice Islands telah dimulai di jaman purbakala.

Ini juga merupakan indikasi betapa berharganya rempah-rempah, termasuk cengkeh, hingga dicari bangsa lain dengan peluncuran ekspedisi besar-besaran. Bahkan sekitar abad 16 cengkeh pernah menjadi salah satu rempah yang paling populer dan mahal di Eropa, melebihi harga emas. Sedemikan pentingnya cengkeh membuat budidaya cengkeh menjadi salah satu budidaya andalan pada masa tersebut.

Sejak ribuan tahun budidaya cengkeh sebagai budidaya tanaman rempah telah menjadi komoditas perdagangan penting antar benua yang melibatkan para penguasa dunia. Foto: draxe.com

Sejarah Budidaya Cengkeh

Budidaya cengkeh yang merupakan tanaman asal Maluku Utara telah dikenal bahkan sebelum zaman VOC. Asal usul tanaman dan budidaya cengkeh di Maluku diduga kuat berkaitan dengan peristiwa pada masa lampau mengenai penguasa Ternate yang mengumpulkan seluruh pemimpin untuk bergabung di bawah kekuasaan Kerajaan Ternate.
Semua pemimpin yang hadir menyetujui tunduk dan membayar upeti setiap tahunnya kepada Kerajaan Ternate. Satu-satunya pemimpin yang menolak pada saat itu adalah Raja Kapahaha yang berkedudukan di Morella Pulau Ambon. Wujud penolakan tersebut ditunjukkan dengan mengirim upeti yang ternyata berisi mayat bayi yang kemudian diperintahkan oleh Sultan Ternate untuk dimakamkan di halaman kerajaan.

Namun kemudian terjadi keanehan pada makam bayi tersebut dimana pada nisannya tumbuh dua tanaman, hingga kemudian tanaman yang terdapat di nisan bagian kaki mati dan hanya menyisakan satu tanaman yang tumbuh di nisan bagian kepala. Seiring waktu tanaman tersebut akhirnya tumbuh besar dan menebarkan bau harum.

Suatu ketika Sultan Ternate mengundang semua pimpinan wilayah untuk menghadiri suatu acara, Kerajaan Kapahaha juga diundang namun raja hanya mengutus punggawa kerajaan yaitu Upu Hatunuku. Semua tamu raja takjub dengan tanaman berbau harum yang baru ditemui tersebut dan meminta agar diperkenankan membawa bibitnya ke daerah masing-masing namun keinginan ini ditolak oleh Sultan Ternate.

Semua tamu pun akhirnya pulang, termasuk Upu Hatunuku yang tak menyadari ujung tongkat bambunya berlubang dan kemasukan beberapa biji tanaman tersebut. Setiba di Wawane tongkat tersebut diletakkan di sebelah rumahnya hingga akhirnya ujung bawah tongkatnya pecah dan Upu Hatunuku menemukan biji tanaman yang tumbuh di halaman Keraton Ternate. Tanaman itu kemudian ditanamnya dan dinamai Pukulawang yang bermakna tidak bergabung dan ingin sendiri. Pukulawang juga bermakna takjub bila melihatnya.

Cerita tersebut merupakan salah satu pendukung budidaya cengkeh telah ada sejak lama di Maluku. Fakta lain yang tak kalah pentingnya mengenai budidaya cengkeh di nusantara adalah hingga saat ini pohon cengkeh tertua di dunia berada di Ternate. Pohon cengkeh yang dinamai cengkeh Afo ini terletak di Kelurahan Tongole, Kecamatan Ternate Tengah, sekitar 6 kilometer dari pusat kota Ternate. Pohon cengkeh Afo diperkirakan telah berusia lebih dari 400 tahun dan memiliki tinggi lebih dari 35 meter dan setiap tahunnya mampu menghasilkan sekitar 400 kilogram bunga cengkeh.

Fakta lain yang tak kalah pentingnya mengenai budidaya cengkeh di nusantara adalah hingga saat ini pohon cengkeh tertua di dunia berada di Ternate. Foto: geospotter.org

Manfaat Budidaya Cengkeh

Hasil budidaya cengke h memiliki ragam manfaat yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Hasil budidaya cengkeh dapat digunakan sebagai bumbu masak untuk pelengkap rasa dan sebagai pengobatan tradisional.
Hasil budidaya cengkeh menghasilkan minyak cengkeh yang berupa minyak atsiri. Khasiat minyak cengkeh ini dapat digunakan sebagai pengobatan alternatif. Banyak zat yang terkandung dalam minyak ini yaitu antibiotik, antivirus, anti-jamur dan memiliki khasiat sebagai anti septik.

Minyak hasil budidaya cengkeh dapat membantu mengobati sakit gigi, caranya cukup mudah yaitu dengan menempatkan/mengoleskan minyak cengkeh tersebut pada lubang tempat sakit gigi. Hasilnya sangat luar biasa, kandungan zat yang terdapat pada cengkeh diyakini memiliki sifat antibiotik yang sangat ampuh dalam membunuh bakteri. Zat aktif pada minyak hasil budidaya cengkeh seperti flavanoid bekerja dengan sifat anti inflamasinya sehingga akan mengurangi peradangan pada penyakit rematik. Hasil budidaya cengkeh juga dapat dimanfaatkan untuk mencegah penyakit jantung dan stroke.

Cengkeh memiliki berbagai kandungan yang sangat ampuh untuk mengatasi mual dan muntah, selain cengkeh, minyaknya juga ampuh untuk mengatasi keluhan mual dan muntah ini. Cengkeh membantu mengendurkan lapisan kelancaran saluran pencernaan, sehingga mereka membantu meringankan muntah, diare, gas usus dan sakit perut. Namun pengunaannya harus diperhatikan karena mereka memiliki zat yang cukup kuat sehingga dapat mengiritasi lambung.

Hasil budidaya cengkeh merupakan salah satu herbal yang dapat menjaga tubuh agar tetap hangat baik jika di kunyah secara langsung ataupun dengan mengoleskan minyak di bagian tubuh yang dingin juga sangat efektif memberikan rasa hangat. Ada berbagai penelitian yang mengaitkan antara manfaat cengkeh dengan masalah sinusitis. Cara pemanfaatannya adalah dengan memanfaatkan bubuk cengkeh dan meletakkannya di bagian dalam hidung. Cengkeh juga dipercaya dapat meredakan batuk, pilek dan meringankan infeksi saluran pernafasan.

Hasil budidaya cengkeh menghasilkan minyak cengkeh yang berupa minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai pengobatan alternatif. Foto: roadahead.com.au

Hasil budidaya cengkeh juga bermanfaat untuk membantu masalah kecantikan kulit dan memberikan efek penting untuk jangka panjang. Minyak asil budidaya cengkeh dapat mengatasi jerawat, menghilangkan noda dan guratan di kulit, serta sumber antioksidan yang baik untuk menjaga kesehatan kulit dan wajah. Minyak hasil budidaya cengkeh juga dapat dimanfaatkan sebagai kondisioner untuk menghitamkan dan memperbaiki berbagai masalah rambut, seperti an, memperbaiki rambut kering dan mencegah rambut rontok penyebab kebotakan.

Demikian asal usul, sejarah, dan pemanfaatan hasil budidaya cengkeh yang diyakini bermula dari nusantara.