Tips dan Informasi Seputar Budidaya Pohon Jati

April 20, 2015 - Tips Budidaya / Uncategorized

Budidaya pohon jati (Tectona grandis) telah dilakukan sejak lama karena produksi kayu jati diakui memiliki kualitas terbaik diantara jenis kayu lainnya. Hasil budidaya jati terkenal sangat kuat dan keras, awet, dan mampu bertahan terhadap berbagai kondisi cuaca, serangan serangga terutama rayap, dan lain-lain. Namun walau kuat dan keras kayu jati mudah dipotong. Kayu jati juga mempunyai tekstur yang menarik sehingga dapat memberi kesan ekslusif pada material yang memanfaatkan kayu jenis ini seperti tiang rumah, daun pintu, kusen, daun jendela, furnitur atau mebel, dan lain-lain.

Budidaya pohon jati di Indonesia kabarnya diperkenalkan oleh pelayar dari India sekitar abad ke 7 masehi. Ceritanya, kapal-kapal layar dari India yang pada masa Hindu sering kesulitan mencari bahan pengganti untuk memperbaiki kapal mereka yang masuk ke nusantara dalam misi perdagangan mencari rempah-rempah, gaharu, dan lain-lain.

Perjalanan laut menuju nusantara yang panjang, badai, angin kencang dan gelombang besar sering merusak tiang-tiang kapal mereka yang berbahan kayu jati. Pelaut-pelaut tersebut kesulitan mencari kayu yang berkualitas setara dengan bahan kapal mereka namun sayangnya pada masa itu belum ditemukan di nusantara.

Budidaya pohon jati di Indonesia didasarkan atas kebutuhan ini. Budidaya pohon jati awalnya dilaksanakan di daerah Rembang dan Blora dan menyebar ke daerah lainnya. Perkembangan budidaya pohon jati di nusantara didukung oleh kerajaan hindu di Jawa, tetapi seiring banyaknya konflik dan peperangan yang menjatuhkan kerajaan ini mengakibatkan anjolknya budidaya pohon jati di nusantara.

Hasil budidaya jati terkenal sangat kuat dan keras, awet, dan mampu bertahan terhadap berbagai kondisi cuaca, serangan serangga, dan lain-lain. Foto: Hasil budidaya jati terkenal sangat kuat dan keras, awet, dan mampu bertahan terhadap berbagai kondisi cuaca, serangan serangga, dan lain-lain.

Budidaya pohon jati di Indonesia kabarnya diperkenalkan oleh pelayar dari India sekitar abad ke 7 masehi. Foto: www.satwa.net

Budidaya pohon jati di tanah air kembali menggeliat ketika penjajah Belanda berkuasa dan melihat potensi ekonomi tanaman ini. Budidaya jati pun dimonopoli oleh pemerintah kolonial dan kini pohon-pohon tersebut dikelola oleh PT. Perhutani. Budidaya pohon jati baru dapat dinikmati hasilnya secara maksimal pada usia 50 tahun bahkan hingga 80 tahun. Artinya, jati-jati yang dipanen pada saat ini merupakan hasil budidaya pohon jati pada masa Belanda dahulu.

Persepsi Salah Budidaya Pohon Jati

Panen hasil budidaya pohon jati yang membutuhkan waktu sangat lama hingga lebih dari 50 tahun membuat banyak petani dan investor enggan berkebun jati. Budidaya pohon jati saat ini semakin berkembang dengan semakin banyaknya varian pohon jati seperti jenis jati unggul, jati emas, jati biotropika, jati super, dan lain-lain. Hasil budidaya pohon jati ini memiliki keunggulan antara lain lebih cepat pertumbuhannya, memiliki batang yang lurus dengan sedikit cabang, biaya perawatan rendah, dan tak mudah terserang penyakit.

Namun banyak persepsi salah mengenai budidaya pohon jati jenis super ini. Sebagian masyarakat beranggapan diameter atau ukuran kayu jati super yang telah dapat dipanen pada usia 10 atau 15 tahun dapat menyamai ukuran jati yang berusia 30 atau 50 tahun. Persepsi ini tentu saja keliru. Pada prinsipnya dalam budidaya pohon jati pertumbuhan diameter tanaman adalah sekitar satu centimeter pertahun. Artinya pada usia 15 tahun ukuran diameter pohon jati baru mencapai 15 centimeter.

Namun kelebihan jati super dan jenis jati lainnya bukanlah pada usia panen melainkan pada kualitas kayu yang dihasilkannya. Kualitas kay jati sendiri ada dua jenis, yaitu jenis vinir dan hara. Vinir adalah kayu jati yang mempunyai kualitas serat yang sangat halus dan sangat mudah disayat. Sementara hara berserat kasar dan memiliki cukup banyak mata kayu.

Mengenal Budidaya Pohon Jati

Budidaya pohon jati dimulai dari mempersiapkan lubang tanam dengan ukuran 40 x 40 x 40 centimeter. Sebelum bibit pohon jati dimasukkan ke dalam lubang tanam, tambahkan pupuk untuk memperkuat pertumbuhan akar.

Pemeliharaan pada budidaya pohon jati meliputi penyiraman dan pengairan, pemangkasan, pemupukan secara berkala, dan pengendalian hama dan gulma. Seperti disebutkan di atas, agar tanaman pohon jati tak tergenang air perlu dibuat saluran untuk mengalirkan air hujan agar kebun budidaya jati tak tergenang.

Budidaya pohon jati dimulai dari mempersiapkan lubang tanam untuk bibit pohon jati dengan ukuran 40 x 40 x 40 centimeter. Foto: Budidaya pohon jati dimulai dari mempersiapkan lubang tanam dengan ukuran 40 x 40 x 40 centimeter.

Pada budidaya pohon jati perlu juga dilakukan pemotongan dan pemangkasan tunas baru calon cabang hingga pohon jati memiliki ketinggian 6 meter. Ini dilakukan untuk meminimalisir mata kayu agar pohon jati dapat menghasilkan kayu jati berkualitas vinir yang memiliki harga jual yang tinggi.

Hama dan penyakit pada budidaya pohon jati antara lain serangan ulat daun, kutu putih, jamur kuning, embun tepung dan lain-lain. Hama dan penyakit ini dapat membuat pertumbuhan pohon jati terhambat dan membuat daun mengering. Hama dan penyakit ini dapat dikendalikan dengan insektisida dan fungisida.

Budidaya tanaman pohon jati dapat mencapai ketinggian hingga 30 hingga 40 meter. Foto: www.tempo.co

Budidaya tanaman pohon jati dapat mencapai ketinggian hingga 30 hingga 40 meter. Budidaya pohon jati idealnya dilaksanakan di daerah yang memiliki curah hujan antara 1.500 hingga 2.000 milimeter per tahun dengan suhu antara 27 hingga 36 derajat celcius serta kaya akan cahaya matahari.

Budidaya pohon jati dapat dilakukan di dataran rendah maupun dataran tinggi dengan pH antara 4,5 hingga 7 dan tak tergenang air. Budidaya pohon jati sangat baik dilaksanakan di tanah yang banyak mengandung kapur dan fosfor seperti di Pulau Jawa. Budidaya pohon jati juga dapat dikembangkan di Pulau Sulawesi, Pulau Sumbawa, Pulau Buru, Pulau Muna, Pulau Bali, dan di Propinsi Lampung.