Meski belum ada standar budidaya lintah yang 100% benar, tapi tingkat keberhasilannya tinggi. Foto: hardianimalscience.wordpress.com

Teknk dan Tips Mudah Budidaya Lintah

September 17, 2016 - Tips Budidaya / Uncategorized

Hewan budidaya lintah adalah hewan dari kelompok filum Annelida, subclass Hirudinea. Terdapat jenis lintah yang dapat hidup didaratan, air tawar dan laut. Seperti halnya kerabatnya Oligochaeta, mereka memiliki clitelum.

Seperti cacing tanah, hewan budidaya lintah juga merupakan hermaprodit. Jenis kelamin lintah tidak membedakan lintah jantan atau betina (hermaprodit = berganti-ganti kelamin, kadang jantan kadang betina = berkelamin ganda).
Pelaku budidaya lintah harus mengetahui bahwa lintah banyak sekali jenisnya. Pada umumnya orang menyebut lintah dengan sebutan atas dasar yang sering dihisap darahnya, misal lintah kerbau karena yang sering ditemukan dihisap adalah kerbau.

Ada yang menyebut berdasar atas tempat hidupnya misalnya lintah rawa, lintah sawah, lintah muara, lintah sungai. Ada juga yang menyebut atas dasar warna badannya;: lintah coklat, lintah hijau, lintah batik/lorena, lintah hitam, dan lain sebagainya.

Hewan budidaya lintah pada dasarnya adalah binatang yang makanannya sari darah mahluk hidup (tidak hanya kerbau yang penting berdarah termasuk ikan, belut, manusia juga di hisap). Lintah yang menghisap darah dan sekali hisap langsung kenyang kemudian istirahat 3 – 6 bulan, bertelur dan beranak.

Rawa-rawa yang sudah terkena pestisida atau bahan pupuk sudah tentu lintah tidak kita temukan (kabur), begitu juga rawa-rawa yang terkena air sabun lintah akan pergi (hilang). Oleh karena itu keberadaan lintah di rawa dapat dijadikan indikasi bahwa rawa tersebut masih alami / bersih).

Lintah jenis Hirudo meicanalis yang berasal dari Eropa telah sejak lama dimanfaatkan untuk pengeluaran darah (plebotomi) secara medis.

Pacet dan Lintah merupakan jenis yang berbeda. Lintah (Hirunine medicinalis),Lintah hidup di Air atau dalam air sedangkan pacet hidup di tempat dengan kelembaban Tinggi di hutan basah (di dedaunan atau di humus dasar hutan basah/pacet tanah).

Dari bentuknya Pacet relatif lebih ramping dengan besaran sama dari ujung mulut sampai ke ekor, tapi lintah berbentuk meruncing ke ujung mulut dan ekor, melebar di badannya.

Meski belum ada standar budidaya lintah yang 100% benar, tapi tingkat keberhasilannya tinggi. Foto: hardianimalscience.wordpress.com

Meski belum ada standar budidaya lintah yang 100% benar, tapi tingkat keberhasilannya tinggi. Foto: hardianimalscience.wordpress.com

Persiapan Budidaya Lintah

Budidaya lintah memang terkesan mudah untuk dilakukan. Namun tetap akan terasa sulit bagi mereka yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk bisa melaksanakan usaha budidaya lintah. Pada budidaya lintah, ada langkah persiapan yang harus dilakukan agar bisa mendapatkan hasil yang menjanjikan. Pertama, pelaku budidaya lintah harus memperhatikan suhu untuk media kembang biak lintah.

Lokasi budidaya lintah sebaiknya mirip habitat di alam, yaitu tenpat tidak terpapar matahari langsung, agak teduh dan lembab. Tempat budidaya lintah dapat berupa kolam, akuarium, atau kolam fiber. Tak ada aturan baku untuk ukuran kolam. Asar kolam kolam budidaya diberi lumpur, bebatuan, pasir, roster atau genting untuk lintah bermain dan menempelkan kokonnya.

Air di kolam budidaya lintah juga disesuaikan dengan alam. Untuk pembesaran suhu air 25-30 derajat celcius. Sedangkan untuk produksi suhu diturunkan menjadi 18-20 derajat celcius. Derajat keasaman air 5-7, kelembapan udara 30-40%.

Jangan lupa untuk meletakkan media untuk lintah menempel dan buat kolam menyeruapi lingkungan asli lintah hidup. Di habitat aslinya, lintah akan menempelkan telurnya pada akar-akar tanaman namun untuk budidaya lintah, pasir, genteng bekas dan masih banyak lagi yang akan cukup untuk dijadikan media budidaya lintah.

Karena hewan budidaya lintah tergolong karnivora sehingga cukup diberi pakan belut dan berbagai jenis invertebrata (hewan tidak bertulang belakang) lain, seperti cacing, siput, dan larva serangga. Di habitat asli, satwa-satwa itu juga pakan utama lintah.

Pemijahan Pada BUdidaya Lintah

Di dalam teknik budidaya lintah , induk yang dipilih sebaiknya berumur paling sedikit 6 bulan induk-induk lintah yang ada harus diberi makan paling tidak satu kali di dalam dua minggu.

Cara mengawinkan lintah dilakukan dengan meletakkan induk dalam suatu wadah-ukuran 1 m3 diisi 800 ekor induk dengan kondisi lingkungan mirip habitat. Bibit budidaya lintah diambil langsung dari rawa-rawa Indonesia yang masih bersih untuk dijadikan bibit budidaya lintah. Cara lainnya adalah dengan membeli bibit budidaya lintah biasa kepada petani lintah, misalkan 50 ekor lintah bisa menghasilkan kira-kira 20.000 bibit ekor lintah.

Setelah diletakkan di kolam budidyaa lintah, lintah akan kawin, berkembang biak, dan bertelur secara alami.. Sebaiknya, ph air di kolam budidaya lintah berkisar pada 5 hingga 7 sementara untuk kelembapan udara berkisar pada 30% hingga 40%.

Setelah bertelur, induk budidaya lintah dipisahkan ke kolam lain agar tidak memakan anaknya. Anakan budidaya lintah cukup diberi pelet dan setelah 2 bulan baru diberi darah dari pakan hewan ternak tidak bertulang belakang.

Hasil budidaya lintah layak jual atau mampu menjalankan fungsinya sebagai “pengobat” ketika berumur minimal 4 bulan atau mencapai ukuran 3-4 cm. Harganya Rp.3000/ekor untuk terapi pengobatan.

Meski belum ada standar budidaya lintah yang 100% benar, tapi tingkat keberhasilannya tinggi. Seorang pelaku budidaya lintah secara tradisional saja berhasil menghasilkan 10.000 lintah perbulan dari 50.000 induk (dari berbagai sumber).