Pengenalan Sejarah dan Kandungan Nutrisi Hasil Budidaya Udang Windu

August 28, 2016 - Tips Budidaya / Uncategorized

Budidaya udang windu merupakan potensi budidaya pertambakan yang hasilnya cukup menjanjikan. Budidaya udang windu menjadi pilihan yang menguntungkan karena harganya yang cukup tinggi walau banyak yang mengatakan usaha budidaya udang windu cukup rumit.

Namun demikian, jika usaha budidaya udang windu dilakukan dengan telaten dan serius, maka keuntungan yang diperoleh sangat besar. Untuk mengenal usaha budidaya udang windu, berikut tips-ukm.com sajikan informasi mengenai sejarah budidaya udang windu di Indonesia.

Pada bagian akhir dari tulisan ini, disajikan pula informasi mengenai kandungan gizi yang ada pada ternak hasil budidaya udang windu.

Sejarah Budidaya Udang Windu di Indonesia

Budidaya udang windu di Indonesia tercatat dimulai pada kisaran tahun pertengahan tahun 1960-an hingga awal 1970-an. Budidaya udang windu di Indonesia dimulai dengan pengenalan morofologi benur alam (terutama udang windu P. monodon dan udang putih P. marguiensis), teknik merawat dan pengangkutan serta pembesarannya didalam tambak (teknologi ekstensif secara mono atau polikultur dengan bandeng) di Sulawesi Selatan (Bulukumba, Jeneponto, Pangkep dan Pinrang).

Pendederan dan aklimatisasi benur budidaya udang windu di dalam keramba jaring apung di dalam tambak atau di dalam bak-bak semen di darat berkembang pesat di daerah pertambakan di Sulawesi Selatan yang jauh dari sumber benur (Pangkep, Maros, Barru).

Sampai dengan tahun 60-an hanya ada 4 negara di dunia yang memiliki areal tambak budidaya udang cukup luas, yaitu Filipina, Indonesia, Taiwan dan Thailand. Masing-masing dengan luas 166.000, 165.000, 27.600 dan 20.000 Ha (Ling, 1970). Di Indonesia sendiri sampai dengan tahun 60-an masih terpusat di Jawa, Sulawesi Selatan dan Aceh.

Budidaya udang windu di Indonesia dimulai dengan pengenalan morofologi benur alam (terutama udang windu P. monodon dan udang putih P. marguiensis), teknik merawat dan pengangkutan serta pembesarannya didalam tambak. Foto: jualikantambak.com

Setelah tahun 70-an budidaya udang windu dilakukan dengan teknologi ekstensif berkembang ke Jawa, Kalimantan (Balikpapan) dan Sumatera (Aceh). Khususnya di Banda Aceh, disamping budidaya udang windu juga dibudidayakan udang putih (P. indicus) karena kelimpahan benur alam jenis udang ini diperairan pantai Aceh.

Budidaya udang windu teknologi ekstensif dengan kepadatan tebar 20.000-30.000 ekor benur/Ha (monokultur) tanpa pakan dapat menghasilkan 3-4 kwintal/Ha/siklus size 30 (hanya mengandalkan pakan alami dengan pemupukan. Disini masih banyak petani budidaya udang windu menerapkan polikultur.

Kandungan Nutrisi Hasil Budidaya Udang Windu

Hasil budidaya udang windu merupakan bahan makanan yang mengandung protein tinggi, yaitu 21%, dan rendah kolesterol, dimana kandungan lemaknya rendah, hanya 0,2%. Hasil budidaya udang windu juga memiliki kandungan vitamin B1 0,01 mg. Vitamin B1 bermanfaat untuk meningkatkan energi tubuh, mencegah anemia, membantu metabolisme glukosa, menjaga fungsi otak, menjaga system pencernaan, mencegah neuropati, dan menyembuhkan penyakit beri-beri.

Hasil budidaya udang windu juga mengandung vitamin A 60 SI/100 yang memiliki manfaat untuk meningkatkan kekebalan tubuh/imun, menghambat sel kanker payudara, membantu mengoptimalkan perkembangan janin, dan menghambat proses penuaan dini.

Kandungan mineral pada hasil budidaya udang windu yakni zat kapur dan fosfor, masing-masing 136 mg dan 170 mg per 100 gram. Zat kapur memiliki manfaat seperti melangsingkan tubuh, mencegah osteoporosis, melawan PMSk. Selain itu kalsium dalam zat kapur melawan kanker, dan menyehatkan jantung.

Ternak hasil budidaya udang windu dapat diolah dengan banyak cara, seperti beku, kering, kaleng, terasi, kerupuk, dan lain-lain. Limbah pengolahan hasil budidaya udang windu yang berupa jengger (daging di pangkal kepala) dapat dimanfaatkan untuk membuat pasta udang dan hidrolisat protein.

Limbah yang berupa kepala dan kaki udang dapat dibuat tepung udang, sebagai sumber kolesterol bagi pakan udang budidaya. Limbah yang berupa kulit udang mengandung chitin 25% dan di negara maju sudah dapat dimanfaatkan dalam industri farmasi, kosmetik, bioteknologi, tekstil, kertas, pangan, dan lain-lain.

Ternak hasil budidaya udang windu mengandung chitosan, sebutan untuk chitin dan chitosan. Nama lain Chitosan adalah Poly-D-glucosamine. Ini merupakan serat makanan kedua setelah selulosa, dan merupakan serat hewani yang dapat dimakan. Selain itu chitosan juga mengandung unsur penting ke-6 selain protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Chitosan merupakan satu-satunya zat molekul tinggi pembawa ion positif yang ada di alam bebas.

Demikian informasi seputar budidaya udang windu , terutama mengenai sejarah dan kandungan nilai gizi yang ada pada ternak budidaya udang windu (dari berbagai sumber).