Cara Budidaya Cacing Tanpa Perlu Pusing

May 4, 2015 - Tips Budidaya / Uncategorized

Budidaya cacing menjadi pilihan karena hewan tak bertulang belakang (avebrata) ini memiliki banyak manfaat dan khasiat. Dari sekitar 1800 jenis cacing yang ada di dunia, baru ada dua jenis yang umum digunakan dalam budidaya cacing, yakni cacing tanah (Lumbricus rubellus) dan cacing harimau (Eisenia fetida). Budidaya cacing jenis ini sangat mudah dilaksanakan dan perkembangbiakannya relatif lebih cepat dibanding jenis cacing lainnya.

Budidaya cacing sangat mudah dilaksanakan dan perkembangbiakannya relatif lebih cepat. Foto: adearisandi.wordpress.com

Hasil budidaya cacing banyak digunakan dalam pengobatan Cina, diantara yang telah popular di masyarakat Indonesia adalah sebagai obat penyakit tifus dan demam. Adapun khasiat cacing lainnya adalah sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit cacar air, diare, rematik, ayan atau epilepsi, lever, diabetes, darah tinggi, penyumbatan pembuluh darah, jantung, kolesterol, kanker, dan penyembuhan setelah strok. Manfaat lain dari budidaya cacing adalah untuk makanan kesehatan, bahan kosmetik, pakan ikan, burung dan ternak lainnya, serta dilibatkan pula dalam proses pembuatan pupuk organik.

Hasil budidaya cacing menjadi pilihan bagi sinshe atau tabib Cina dalam ramuan obatnya karena cacing tak memiliki efek kimia bagi tubuh manusia sehingga relatif aman untuk dikonsumsi. Cacing tanah memiliki senyawa aktif yang memiliki kemampuan melumpuhkan bakteri patogen. Cacing tanah juga memiliki kandungan protein yang sangat tinggi yakni sekitar 76 persen, lebih tinggi dari kandungan protein ikan, ayam, kambing, dan sapi.

Persiapan Budidaya Cacing

Budidaya cacing dilakukan di media yang memiliki kandungan bahan organik dalam jumlah memadai. Media budidaya cacing membutuhkan tanah yang sedikit asam hingga netral dengan pH antara 6 hingga 7,2. Pada kondisi media tanah seperti ini, bakteri yang ada pada cacing bekerja optimal.

Media budidaya cacing dapat memanfaatkan bekas log jamur, tanah yang gembur dan memiliki banyak unsur hara, cacahan batang pohon pisang dicampur tanah, campuran kotoran sapi, limbah hasil gergajian kayu yang dicampur air, serta media lainnya.

Budidaya cacing dapat dilakukan dengan membangun jedingan atau semacam bak, di rak kayu, besi atau bambu, bak plastik, karung bekas, besek, dan semacamnya. Foto: majalahtower.com

Pada budidaya cacing kelembaban yang dibutuhkan agar pertumbuhan dan perkembangbiakan cacing dapat optimal adalah sekitar 15 hingga 30 persen dengan suhu udara antara 15 hingga 25 derajat celcius. Foto: gardenproducts.gr

Pada budidaya cacing kelembaban yang dibutuhkan agar pertumbuhan dan perkembangbiakan cacing dapat optimal adalah sekitar 15 hingga 30 persen dengan suhu udara antara 15 hingga 25 derajat celcius. Lokasi budidaya cacing sebaiknya berada di tempat yang teduh dan tak terkena sinar matahari secara langsung. Budidaya cacing dapat dilakukan dengan membangun jedingan atau semacam bak, di rak kayu, besi atau bambu, bak plastik, karung bekas, besek, dan semacamnya.

Selanjutnya, siapkan indukan yang dapat dibeli ke peternak cacing yang telah lebih dulu melaksanakan budidaya cacing. Membeli indukan dari peternak dinilai lebih baik daripada mencari calon indukan di alam bebas karena cacing ternakan telah memiliki kemampuan beradaptasi di media budidaya sehingga dapat lebih mudah berkembangbiak dibanding cacing liar yang belum terbiasa hidup di peternakan.

Pakan dalam budidaya cacing cukup mudah didapat dan biayanya dapat ditekan semurah mungkin bahkan bisa diperoleh dengan cuma-cuma. Pakan untuk budidaya cacing dapat berupa limbah organik seperti nasi sisa, kulit dan sisa buah dan sayuran, limbah rumah makan, limbah sayur dan buah dari pasar tradisional, log jamur, dedaunan, kotoran sapi, kambing, ayam, yang telah diberi air dan prebiotik, dan lain-lain. Pakan dapar diberikan secara langsung atau dibusukkan dan difermentasi dengan memberikan tetes tebu untuk membuat jumlah bakteri di dalam pakan meningkat.

Pemeliharaan dalam Budidaya Cacing

Pemeliharaan dalam budidaya cacing yang paling penting adalah pemberian pakan. Pemberian pakan dalam budidaya cacing dilakukan satu kali sehari atau minimal satu kali dalam seminggu dengan perkiraan jumlah pakan sebanyak berat cacing yang dibudidayakan. Umpamanya dalam satu media budidaya, cacing yang ditanam seberat 1 kilogram maka pakan yang diberikan dalam satu hari juga sebanyak 1 kilogram. Pakan diberikan dengan cara ditaburkan di media budidaya cacing tetapi jangan menutup seluruh permukaan media budidaya cacing.

Jika hari berikutnya pakan belum habis, maka aduk pakan dengan media budidaya cacing dan berikan pakan dengan jumlah yang lebih sedikit dari hari sebelumnya. Media budidaya cacing juga harus diperhatikan, dengan mengganti media yang sudah menjadi tanah atau istilahnya kasing. Selain itu, untuk media budidaya cacing yang telah banyak terdapat telur atau kokon juga harus diganti. Idealnya penggantian media budidaya cacing dilakukan dua minggu sekali.

Perlu diingat pula, budidaya cacing memiliki risiko serangan hama pengganggu yaitu tikus, tokek, kadal, semut, rayap, kutu tanah, orong-orong, dan lain-lain. Hama yang berpotensi merugikan usaha budidaya cacing ini dapat diminimalisir dengan menjaga kebersihan lingkungan, kemudian, semut dapat diantisipasi dengan kapur semut dan cairan odol, tikus, kadal, dan tokek diantisipasi dengan menutup media budidaya dengan kawat kasa atau jarring, sementara kutu tanah dapat dikendalikan dengan proses fermentasi media budidaya.

Pemanenan hasil budidaya cacing dilakukan sekitar 4 bulan setelah penanaman bibit. Foto: www.teropongbisnis.com

Hasil budidaya cacing yang diharapkan berupa cacing itu sendiri dan kascing atau bekas cacing. Pemanenan hasil budidaya cacing dilakukan sekitar 4 bulan setelah penanaman bibit. Cacing yang dipanen adalah sekitar seperempat dari jumlah cacing yang ada tanpa dilakukan penyortiran ukuran. Kascing dapat dikembalikan ke wadah media budidaya atau dikemas untuk dijual berdasarkan permintaan pemesan.

Proses pemanenan dalam budidaya cacing dapat dilakukan dengan banyak cara, seperti dengan menggunakan lampu petromaks atau neon. Karena cacing sangat sensitif terhadap cahaya mereka akan berkumpul di bagian atas media budidaya cacing sehingga memudahkan pemanenan. Cara lain pemanenan adalah dengan membalikkan wadah media budidaya cacing sehingga cacing keluar dan berkumpul. Ikuti pedomannya dan budidaya cacing tak perlu pusing.