Pada budidaya kalkun penentuan jenis kelamin hewan atau sexing dilakukan untuk memudahkan dalam pengelompokan hewan berdasarkan jenisnya. Foto: www.flickr.com

Metode Pengembangbiakan Pada Budidaya Kalkun

September 20, 2015 - Tips Budidaya / Uncategorized

Perkawinan indukan jantan dan betina pada budidaya kalkun merupakan upaya pengembangbiakan hewan yang bertujuan untuk menjaga keberlangsungan hewan sekaligus memperoleh keuntungan dengan mengembangkan jumlah hewan ternak yang dimiliki. Pada budidaya kalkun perkawinan dapat terjadi secara alami maupun melalui campur tangan manusia.

Perkawinan pada budidaya kalkun dapat dilakukan dengan menghimpun kalkun jantan dan betina dalam satu kandang, dengan perbandingan satu ekor jantan disiapkan untuk mengawini empat hingga lima ekor kalkun betina.

Pelaku budidaya kalkun perlu mengetahui bahwa kalkun seperti unggas pada umumnya sebetulnya dapat bertelur tanpa dikawini oleh jantan. Hebatnya lagi telur ini dapat menetas menjadi anak kalkun yang biasanya berjenis kelamin jantan. Namun anak kalkun ini biasanya memiliki tingkat kesehatan yang rendah dengan risiko tinggi terserang penyakit.

Oleh karenanya, jika pelaku budidaya kalkun memiliki keinginan mengembangbiakkan unggas yang juga disebut ayam raksasa ini sebaiknya memang dengan jalan perkawinan indukan jantan dan betinanya.


Pelaku budidaya kalkun perlu mengetahui bahwa kalkun seperti unggas pada umumnya sebetulnya dapat bertelur tanpa dikawini oleh jantan. Foto: architecturedanang.blogspot.com

Memilah Indukan Pada Budidaya Kalkun

Pada budidaya kalkun penentuan jenis kelamin hewan atau sexing dilakukan untuk memudahkan dalam pengelompokan hewan berdasarkan jenisnya. Jika pada unggas lain sexing dilakukan dengan mengamati kloaka, maka pada kalkun lain lagi. Pada kalkun jantan ada semacam benjolan di leher. Para peternak biasa menamai benjolan ini dengan nama puser atau pusar.  Pusar ini berupa tonjolan yang kelak akan ditumbuhi rambut. Jika terdapat tonjolan, dapat dipastikan kalkun tersebut adalah kalkun jantan.

Pada kalkun jantan, gelambir bagian bawah lebih lebar dan terdapat benjolan yang lebih besar-besar. Yang terakhir, tonjolan pial diatas paruh pada kalkun jantan usia tiga bulan lebih panjang dan bisa ditarik. Untuk pemula, sexing lebih mudah dilakukan pada usia tiga bulan. Kurang dari usia tersebut diperlukan kecermatan karena tanda-tanda diatas masih belum jelas terlihat. Untuk peternak yang berpengalaman, menentukan jenis kelamin kalkun bisa dilakukan mulai kalkun berumur kurang dari satu minggu.

Pada budidaya kalkun penentuan jenis kelamin hewan atau sexing dilakukan untuk memudahkan dalam pengelompokan hewan berdasarkan jenisnya. Foto: www.flickr.com

Pada budidaya kalkun penentuan jenis kelamin hewan atau sexing dilakukan untuk memudahkan dalam pengelompokan hewan berdasarkan jenisnya. Foto: www.flickr.com

Pelaku budidaya kalkun yang sudah berpengalaman, selain mengamati kloaka kalkun dapat juga melakukan sexing menggunakan perangkat proctoscope, alat untuk memeriksa usus besar anak ayam itu. Alat ini dapat membantu anda melihat melalui dinding usus anakan kalkun dan menemukan gonad anak ayam itu, Jantan yang akan memiliki dua testis, dan betina satu ovarium. Cara lainnya yang digunakan pelaku budidaya kalkun Bandingkan bulu halus anak-anak ayam dengan bulu utama mereka. Bulu yang lebih cepat tumbuh adalah jantan dan lambat betina. Kalkun betina akan memiliki bulu halus yang selalu lebih pendek daripada bulu primer.

Di pasaran, beberapa pedagang nakal sering memotong pial bagian atas agar terlihat seperti kalkun betina. Cara-cara ini jelas tidak dianjurkan. Untuk pelaku budidaya kalkun yang masih pemula harus berhati-hati. Sebisa mungkin jangan membeli kalkun di pasar jika kita belum berpengalaman dalam budidaya kalkun. Kalkun dari pasar juga tidak jelas asal-usul dan kesehatannya. Bisa saja kalkun yang kita beli membawa bibit penyakit sesampainya dirumah.

Perkawinan Indukan Pada Budidaya Kalkun

Perkawinan pada budidaya kalkun mulai dapat dilakukan saat induk jantan dan betina berusia enam bulan. Pengembangbiakan pada budidaya kalkun dapat dilakukan melalui perkawinan secara alami maupun dibantu. Kalkun jantan yang siap kawin ditandai dengan ciri-ciri selalu mengejar-ngejar betina dan kerap bertarung dengan pejantan lain. Kalkun yang terlalu galak dan kerap bertarung perlu dipisah dalam kandang budidaya kalkun tersendiri.

Pada pasangan kalkun yang besarnya sama, perkawinan tidak sulit dilakukan. Walaupun begitu, pada budidaya kalkun saat perkawinan kita harus turut mengamati apakah terjadi ketidak-wajaran. Jika sudah selesai, kalkun betina dapat kita beri tanda pita di kakinya. Demikian seterusnya sampai semua betina sudah dikawini oleh pejantan. Dengan tanda pita tersebut kita bisa tahu jika kalkun bertelur, maka telurnya adalah telur hasil budidaya kalkun yang bisa menetas.

Kadang-kadang, kita mempunyai pejantan bertubuh besar yang ingin kita kawinkan dengan betina muda. Perbedaan tubuh ini merupakan masalah dalam perkawinan pada budidaya kalkun. Kalkun jantan bertubuh besar akan menindih sambil mencengkeram betina dengan jari-jarinya yang tajam. Jika ini terjadi, biasanya betina akan kewalahan dan bulu-bulunya rusak.

Untuk itu, perkawinan pada budidaya kalkun harus dibantu secara manual. Caranya, kita memegangi betina dan mengamankan tubuhnya dari cengkeraman cakar pejantan. Setelah selesai, pejantan bertubuh besar ini kita pisahkan agar tidak berkelahi atau kawin diluar pengawasan kita.

Salah satu aktivitas kalkun betina yang sering disalah-artikan adalah saat kalkun berjemur. Saat berjemur ini kalkun akan tiduran dengan posisi sayap terbuka (kekipu). Aktivitas ini kadang diartikan sebagai tanda bahwa kalkun birahi, padahal tidak. Jika kalkun belum siap kawin kemudian dikawinkan, akan mengakibatkan beberapa hal seperti telurnya sedikit dan ada yang bentuknya abnormal, daya tetasnya rendah, DOT-nya lemah, serta induknya gampang sakit bahkan mati saat mengeram.

Untuk pengeraman, kalkun dibuatkan kandang khusus yang berbentuk boks. Jika kalkun yang mengeram banyak, maka kandang dibuat berderet-deret untuk memudahkan pengawasan dan menghemat tempat. Kandang ini bisa dibuat dari kayu, bambu ataupun tripleks. Sebagai alasnya, kita bisa memberikan kain-kain bekas atau merang kering. Pada budidaya kalkun masa pengeraman berlangsung selama 28 hari. Untuk memacu produksi, telur hasil budidaya kalkun ini bisa kita ambil dan ditetaskan dalam mesin. Setelah beristirahat selama dua minggu setelah bertelur, kalkun bisa kembali dikawinkan.

Pada budidaya kalkun sebaiknya jika dalam dua atau tiga periode bertelur pengeramannya dilakukan dengan mesin, maka selanjutnya diselingi dengan satu kali mengeram. Foto:
ayamhiasjogja.wordpress.com

Sebelum kembali kawin, betina harus kita karantina dalam kandang budidaya kalkun tersendiri selama 2 minggu. Kalkun yang telurnya selalu diambil untuk ditetaskan, akan kehilangan naluri mengeram. Jika sudah demikian, selama hidupnya kalkun tidak akan pernah mengeram. Di satu sisi, hal ini bagus untuk produktivitas budidaya kalkun. Tapi banyak pelaku budidaya kalkun yang merasa kasihan dengan kalkun seperti ini. Untuk pencegahannya, kalkun juga harus diberi kesempatan mengeram.

Pada budidaya kalkun sebaiknya jika dalam dua atau tiga periode bertelur pengeramannya dilakukan dengan mesin, maka selanjutnya diselingi dengan satu kali mengeram. Demikian informasi singkat mengenai metode pengembangbiakan pada budidaya kalkun melalui perkawinan alami maupun perkawinan melalui campur tangan manusia (dari berbagai sumber).