Mengupas Keunggulan Budidaya Domba Garut

June 29, 2015 - Tips Budidaya / Uncategorized

Budidaya domba garut adalah salah satu usaha ternak unggulan yang memiliki sejarah panjang dan terkait dengan tradisi masyarakat. Budidaya domba garut menjadi terasa lebih bernilai dengan adanya adu ketangkasan yang memacu setiap peternak untuk menghasilkan keturunan domba garut yang memiliki kualitas yang terbaik. Adu domba garut juga menjadi salah satu daya tarik wisata yang memiliki nilai seni dan tradisi yang kental, mampu menumbuhkan nilai-nilai sportivitas dan menjadi sarana dalam memperkuat persatuan dan kesatuan masyarakat.

Budidaya domba garut menjadi pilihan peternak karena sejumlah keunggulan yang dimiliki hewan berkaki empat yang satu ini. Budidaya domba garut diakui memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan dapat menjadi salah satu motor penggerak ekonomi masyarakat. Budidaya domba garut juga menjadi nyawa kalatisator bagi sektor usaha lain yang menjadi turunannya, seperti usaha kuliner, industri pengolahan makanan, usaha kerajinan kulit, usaha pakaian, industri sepatu, dan lain-lain.

Budidaya domba garut menjadi terasa lebih bernilai dengan adanya adu ketangkasan yang memacu setiap peternak untuk menghasilkan keturunan domba garut yang memiliki kualitas yang terbaik. Foto: bapakdomba.blogspot.com

Sejarah Panjang Budidaya Domba Garut

Budidaya domba garut ternyata memiliki sejarah yang sangat panjang dengan sejumlah versi yang dilengkapi argumen masing – masing. Sejumlah ahli menyatakan bahwa budidaya domba garut berasal dari domba lokal asli Garut, yaitu dari Daerah Cibuluh dan Cikeris di Kecamatan Cikajang serta dari Kecamatan Wanaraja. Keyakinan asal budidaya domba garut tersebut dilandasi oleh teori bahwa seluruh bangsa domba yang ada di dunia dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar, yaitu kelompok domba bermuka putih (white face) dan domba bermuka hitam (black face). Domba muka putih secara genetik membawa warna yang lebih dominan dibandingkan warna pada domba muka hitam. Sementara domba-domba yang didatangkan sejak zaman penjajahan Belanda hingga saat ini umumnya adalah kelompok domba muka putih (termasuk domba merino, texel, dan domba ekor gemuk).

Sehingga warna hitam yang banyak terdapat pada hasil budidaya domba garut dipercaya berasal dari domba lokal, khususnya domba lokal dari daerah Cibuluh dan Wanaraja yang sejak dahulu dikenal dengan domba-dombanya yang dominan berwarna hitam, termasuk dominan hitam pada tubuh secara keseluruhan. Di samping itu domba cibuluh memiliki ciri yang sangat spesifik, yaitu bertelinga rumpung (rudimenter) dengan ukuran panjang kurang dari 4 cm atau ngadaun hiris (4 – 8 cm), sedangkan domba-domba lokal rata-rata memiliki daun telinga yang rubak dengan ukuran panjang lebih dari 8 cm.

Warna hitam yang banyak terdapat pada hasil budidaya domba garut dipercaya berasal dari domba lokal, khususnya domba lokal dari daerah Cibuluh dan Wanaraja Foto: hdwwallpapers.com

Sementara teori Merkens dan Soemirat yang menyatakan bahwa budidaya domba garut atau domba priangan berasal dari persilangan yang kurang terencana dari tiga bangsa domba (merino X lokal X ekor gemuk), itu pun dapat diterima sejauh belum ada pembuktian melalui penelitian darah dan gena yang terdapat pada domba garut atau domba priangan. Namun demikian hal tersebut dapat mengaburkan keberadaan domba asli Cikajang (Cibuluh dan Cikeris) dan Wanaraja, karena domba asli Kecamatan Cibuluh dan Kecamatan Wanaraja Garut telah dikenal ratusan tahun lampau jauh sebelum domba- impor didatangkan ke nusantara.

Penelitian lebih lanjut baik secara historis mau pun sosiologis mengenai keberadaan salah satu relief pada situs yang terdapat di Candi Prambanan perlu dilakukan. Pada situs tersebut terlihat dua ekor domba yang saling berhadap-hadapan sebagai hewan persembahan, ke dua domba tersebut memiliki beberapa karakteristik yang mirip dengan ciri khas hasil budidaya domba garut. Kesimpulannya budidaya domba garut tersebut dipandang sebagai domba terbaik dari domba-domba yang ada pada masa lalu. Karena tidak mungkin domba yang berkualitas rendah dijadikan hewan persembahan yang diabadikan dalam bentuk relief pada sebuah candi yang besar, sekelas Candi Prambanan.

Seribu Alasan Budidaya Domba Garut

Budidaya domba garut dipilih karena tampilan fisiknya yang mengagumkan, domba garut memiliki rangka badan yang tinggi dan tegap, bulu yang tebal dan mengkilap serta tanduk yang unik. Hasil budidaya domba garut kerap dipamerkan dan dipertandingkan dalam gelaran tradisi adu domba yang telah terkenal seantero nusantara bahkan dunia. Domba garut yang berhasil keluar sebagai juara harga jualnya dipastikan meningkat serta reputasi, kehormatan, dan bahkan status pemiliknya di masyarakat juga akan meningkat, plus hadiah sebagai pemenang tentunya.

Bobot bersih daging hasil budidaya domba garut lebih tinggi dibanding kambing atau domba lainnya. Rasa daging hasil budidaya domba garut yang diolah menjadi berbagai jenis menu pun dianggap lebih lezat ketimbang kambing.
Hasil budidaya domba garut menjadi primadona untuk dimanfaatkan menjadi satai, sup atau pindang daging domba, iga bakar, kare, atau digunakan sebagai domba aqiqah, serta untuk kurban dalam hari raya Idul Adha.

Hasil budidaya domba garut menjadi primadona untuk dimanfaatkan menjadi satai, sup atau pindang daging domba, iga bakar, kare, atau digunakan sebagai domba aqiqah, serta untuk kurban dalam hari raya Idul Adha. Foto: www.konfrontasi.com

Dengan berat saat hidup mencapai 32 kilogram (kg), daging yang didapat saat karkas bisa mencapai 50 persen. Ini jauh lebih banyak ketimbang kambing atau domba lain yang persentase karkasnya hanya sebesar 35 hingga 40 persen. Terlebih lagi, dalam budidaya domba garut kenaikan berat badan ternak dalam setiap bulan cukup besar yakni 2,5 kg sampai 3 kg. Susu hasil budidaya domba garutjuga memiliki nilai gizi tinggi dan diyakini memiliki khasiat bagi kesehatan.

Manfaat lain dari budidaya domba garut adalah kulitnya yang bisa diolah menjadi bahan jaket, tas, sepatu, ikat pinggang, sarung tangan, topi, pelapis sofa dan kursi, dan lain-lain.