Mengisi Waktu Dengan Budidaya Murai Batu

April 25, 2015 - Tips Budidaya / Uncategorized

Budidaya murai batu (Copychus malabaricus) telah menarik perhatian banyak peternak karena pasarnya terbuka lebar serta potensinya yang masih cukup besar di masa depan. Budidaya murai batu lebih dipilih penangkar daripada memburu di hutan yang populasinya juga semakin berkurang. Beberapa jenis burung ini bahkan telah masuk dalam list burung yang dilindungi dan terancam punah sehingga perburuannya dapat diancam hukuman kurungan dan denda.

Di sisi lain, burung murai batu hasil buruan juga masih perlu dijinakkan sekitar satu hingga dua tahun dan karena naluri sifat liarnya yang masih terpelihara burung murai batu yang baru didapat dari alam tak mungkin diikutsertakan pada kejuaraan burung berkicau.

Hasil budidaya murai batu yang berkualitas bagus dapat dihasilkan dari perkawinan silang diantara jenis-jenis murai batu. Foto: www.kicaumania.or.id

Keunggulan budidaya murai batu adalah burung anakan hasil budidaya dapat diketahui kualitasnya dari pasangan indukan yang melahirkannya. Hasil budidaya murai batu yang berkualitas bagus dapat dihasilkan dari perkawinan silang diantara jenis-jenis murai batu. Misalnya budidaya murai batu hasil persilangan antara betina murai batu ekor panjang dan jantan murai batu nias diharapkan akan menghasilkan keturunan yang mewarisi dua sifat unggul dari indukannya, yakni burung murai batu yang memiliki suara melengking dengan ekor hitam panjang menjuntai yang ada warna putihnya.

Budidaya murai batu sangat tepat dilakukan oleh mereka yang memiliki banyak waktu luang seperti pelajar, mahasiswa, pensiunan, orang yang memiliki pekerjaan yang tak terikat waktu, atau mereka yang tak memiliki pekerjaan tetap. Syarat lain dari budidaya murai batu adalah memiliki kecintaan terhadap hewan, khususnya burung dan lebih spesifiknya lagi memiliki kecintaan terhadap burung berkicau.

Mengenal Budidaya Murai Batu

Pelaku budidaya murai batu harus mengenal karakteristik dan spesies murai batu yang dipeliharanya. Pengenalan ini penting untuk meningkatkan rasa kecintaan terhadap budidaya murai batu. Kecintaan terhadap budidaya murai batu merupakan kunci awal membuka gerbang kesuksesan.

Pelaku budidaya murai batu harus mengenal karakteristik dan spesies murai batu yang dipeliharanya. Foto: www.flickr.com

Burung murai batu termasuk dalam famili Turdidae yang memang diidentifikasi memiliki kemampuan berkicau dengan suara merdu, bermelodi, dan memiliki banyak sekali variasi. Burung murai dikelompokkan menjadi lima spesies yaitu Copsychus malabaricus (White Rumped Shama), Copsychus luzoniensis (White Browed Shama), Copsychus niger (White Vented Shama), Copsychus cebuensis (Black Shama), dan Trichixos pyrropygus (Orange Tailed Shama / Rufous Tailed Shama).

Spesies burung murai batu tersebut dikelompokkan lagi menjadi puluhan sub-spesies yang diidentifikasi berdasarkan daerah penyebaran, ukuran dan postur tubuh, serta warna bulu. Pelaku budidaya murai batu di Indonesia mengenal burung murai batu yang khas Indonesia, yakni murai batu medan, murai batu aceh, murai batu nias, murai batu jambi, murai batu lampung, murai batu banjar atau borneo, murai batu jawa atau larwo, dan lain-lain.

Pada budidaya murai batu menu pakan yang diberikan hendaklah memiliki keseimbangan dalam nutrisi, vitamin dan mineral. Pakan hendaknya memiliki kandungan protein, karbohidrat, kalsium, kalium, fosfor, zat besi, mangan, yodium, vitamin A, B, C, D, E, dan K. Untuk memenuhi gizinya, burung murai batu diberi pur yang selalu tersedia di tempat makannya. Jika pur tidak habis, setiap dua hari sekali harus diganti dengan yang baru untuk meminimalisir perkembangan bakteri pada pur. Selain itu, pemberian pakan tambahan atau extra fooding berupa makanan alami burung murai batu seperti kroto, cacing, ulat bambu, ulat hongkong, jangkrik, belalang, kelabang, dan sejenisnya sangat bermanfaat bagi burung.

Perjodohan dalam Budidaya Murai Batu

Keberhasilan budidaya murai batu dalam mengembangbiakkan jumlah burung didukung oleh keberhasilan dalam mengawinkan burung murai batu yang menghasilkan anakan yang berkualitas. Perjodohan dalam budidaya murai batu diawali dengan pemilihan indukan yang berkualitas dan produktif.

Pada budidaya murai batu, induk murai batu jantan yang dipilih hendaklah berusia dua tahun, sehat dan tak memiliki cacat, postur tubuh ideal dan tentu saja gacor. Sementara indukan betina yang dipilih berusia satu tahun, sehat, serta sudah mau berbunyi jika didekatkan dengan jantannya.

Perjodohan dalam budidaya murai batu bisa dilakukan di kandang yang cukup luas dengan sekat yang dapat dibuka tutup. Foto: omkicau.com

Perjodohan dalam budidaya murai batu bisa dilakukan di kandang yang cukup luas dengan sekat yang dapat dibuka tutup. Indukan burung murai batu yang siap dikawinkan, baik jantan maupun betina yang berada di satu kandang perjodohan yang disekat akan saling mendekat, berkejaran namun tak saling menyerang. Jantan murai batu akan bersiul yang ditanggapi oleh betinanya sembari mengetar-getarkan sayapnya. Jika telah demikian, buka sekat di kandang perjodohan agar indukan burung murai batu dapat dikawinkan.

Jika perkawinan pada budidaya murai batu berhasil, murai batu betina akan bertelur dan mengeram selama 14 hari sebelum telur menetas. Pada masa pengeraman hingga telur menetas, indukan betina yang telah ditempatkan di kandang pengeraman dan penetasan diberi pakan alami berupa kroto yang nantinya akan diberikan pula oleh induk kepada anaknya yang baru menetas.

Anakan burung hasil budidaya murai batu dapat dipisahkan dari induknya pada hari ke 5 hingga ke 10 setelah penetasan. Foto: lacvietchoelua.blogspot.com

Anakan burung hasil budidaya murai batu dapat dipisahkan dari induknya pada hari ke 5 hingga ke 10 setelah penetasan. Jika kurang dari 5 hari anakan burung murai batu masih terlalu lemah sementara jika lebih dari 10 hari anakan menjadi sangat tergantung pada induknya dan menjadi takut pada manusia sehingga mengalami stres saat dipisah, tak mau makan dan dapat berakibat kematian.

Anakan murai batu dapat diberi pakan kroto yang bersih dan ditetesi sedikit air untuk memudahkan anak burung menelannya. Suapi anakan murai batu secara perlahan dengan bantuan lidi atau bambu. Setelah anakan berusia 15 hari berikan pakan yang lebih besar seperti badan jangkrik kecil yang telah dicopoti kaki dan kepalanya. Setelah anakan burung murai batu dapat meloncat artinya sudah dapat dipindahkan ke sangkar gantung. Namun alasi dasar sangkar dengan bahan lembut yang dapat mencegah cidera pada kaki anakan burung murai batu yang suka meloncat. Sediakan pula tangkringan bertingkat rendah untuk membuat anak burung murai batu aktif bergerak dan meloncat.

Ada sejumlah tips budidaya murai batu agar mampu mengembangbiakkan burung dengan volume kicauan yang baik. Pertama, setiap pagi antara jam 6 hingga jam 7 murai batu diembunkan atau diangin-anginkan. Untuk menjaga keseimbangan suhu tubuh murai batu selanjutnya dijemur sekitar 30 menit. Selanjutnya, burung murai batu dimasukkan ke dalam kandang umbaran yang cukup luas agar tetap aktif. Kandang umbaran ditempatkan pada ruang terbuka dengan suhu yang teduh. Burung murai batu dimandikan pada siang hari.

Itulah sejumlah faktor kunci budidaya murai batu yang memiliki suara merdu. Jadi selamat memanfaatkan waktu untuk budidaya murai batu. Selamat mencoba dan semoga sukses melaksanakan budidaya murai batu .