Budidaya cacing sutra semakin berkembang dalam beberapa tahun ini karena kebutuhan cacing sutra semakin tinggi dengan jumlah produksi cacing dalam negeri masih sangat rendah. Foto: www.complex.com

Mengenal Cacing Sutra Serta Potensi Usaha Budidaya Cacing Sutra

September 15, 2015 - Tips Budidaya / Uncategorized

Budidaya cacing sutra (Tubifex) atau sering disebut dengan cacing rambut atau cacing darah karena warnanya sendiri merah pekat menyerupai darah semakin menarik perhatian banyak pelaku budidaya. Budidaya cacing sutra semakin berkembang dalam beberapa tahun ini karena kebutuhan cacing sutra semakin tinggi dengan jumlah produksi cacing dalam negeri masih sangat rendah.

Permintaan akan hasil budidaya cacing sutra berasal dari pelaku budidaya ikan hias dan pelaku usaha pembenihan yang sangat tergantung pada ketersedian cacing sutra. Sebetulnya pakan pengganti cacing sutra sudah tersedia di pasaran, namun sebagian besar para pebisnis ikan menganggap peran cacing sutra belum tergantikan sampai sekarang.

Budidaya cacing sutra cocok dilakukan oleh pelaku budidaya yang terkendala oleh keterbatasan lahan dan modal. Budidaya cacing sutra tak memerlukan lahan yang luas. Selain itu hasil budidaya cacing sutra dapat dipanen dalam waktu yang singkat, yakni dapat dipanen hingga 2 kali dalam 1 bulan.

Di alam bebas, cacing sutra hidup membentuk koloni seperti semut. Habitat aslinya ada di perairan yang jernih kaya akan bahan organik. Untuk ukuran cacing ini memang tergolong sangat kecil, mengingat ukurannya hampir 11-12 dengan rambut dengan panjang sekitar 1-3 cm. Kandungan tubuhnya terdiri dari 57% protein serta 13% lemak, oleh karenanya komposisi ini merupakan komposisi yang pas untuk pakan ikan ternak maupun ikan hias.

Budidaya cacing sutra semakin berkembang dalam beberapa tahun ini karena kebutuhan cacing sutra semakin tinggi dengan jumlah produksi cacing dalam negeri masih sangat rendah. Foto: www.complex.com

Budidaya cacing sutra semakin berkembang dalam beberapa tahun ini karena kebutuhan cacing sutra semakin tinggi dengan jumlah produksi cacing dalam negeri masih sangat rendah. Foto: www.complex.com

Kondisi Ideal Lingkungan Budidaya Cacing Sutra

Pelaku budidaya cacing sutra harus mengetahui kondisi lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan cacing sutra. Hal ini menjadi syarat mutlak bagi pelaku budidaya cacing sutra yang ingin berhasil. Pelaku budidaya cacing sutra perlu mengetahui bahwa cacing sutra dapat hidup pada kondisi air yang mengandung lumpur dengan tingkat kedalaman sekitar 0 – 4 cm.

Peranan air dalam budidaya cacing sutra sangatlah penting guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan. Adapun ciri khusus air yang ideal bagi budidaya cacing sutra adalah memiliki pH sekitar 5.5 – 8.0, suhu berkisar antara 25 – 28 derajat celcius, kandungan oksigen pada air sekitar 2,5 – 7,0 ppm. Kebutuhan akan jumlah debit air dalam budidaya cacing sutra tidak terlalu besar, mengingat ukuran cacing sutra sangat kecil.

Peranan air dalam budidaya cacing sutra sangatlah penting guna mendukung pertumbuhan cacing sutra. Foto: www.jitunews.com

Peranan air dalam budidaya cacing sutra sangatlah penting guna mendukung pertumbuhan cacing sutra. Foto: www.jitunews.com

Cacing sutera merupakan organisme hermaprodit yang memiliki dua alat kelamin jantan dan betina sekaligus dalam satu tubuh. Berkembangbiak dengan bertelur, proses peneluran terjadi di dalam kokon yaitu suatu segmen yang berbentuk bulat telur yang terdiri dari kelenjaar epidermis dari salah satu segmen tubuhnya. Telur tersebut mengalami pembelahan, kemudian berkembang membentuk segmen-segmen. Setelah beberapa hari embrio dari cacing ini akan keluar dari kokon. Cacing sutera ini mulai berkembangbiak setelah 7-11 hari.

Pemeliharaan Dan Hasil Budidaya Cacing Sutra

Pada budidaya cacing sutra pakan yang diberikan adalah bahan makanan organik yang bercampur dengan lumpur atau sedimen di dasar perairan. Cara makan cacing sutra adalah dengan cara menelan makanan bersama sedimennya dan karena cacing sutra mempunyai mekanisme yang dapat memisahkan sedimen dan makanan yang mereka butuhkan.

Waktu diperlukan untuk melakukan panen hasil budidaya cacing sutra yakni setelah budidaya berlangsung beberapa minggu dan setelahnya berturut-turut panen bisa dilakukan setiap dua minggu sekali. Cara pemanenan hasil budidaya sutera dilakunan dengan menggunakan serok atau saringan berbahan halus/lembut.

Cara pemanenan hasil budidaya sutera dilakunan dengan menggunakan serok atau saringan berbahan halus/lembut.  Foto: usahabudidaya.com

Cara pemanenan hasil budidaya sutera dilakunan dengan menggunakan serok atau saringan berbahan halus/lembut. Foto: usahabudidaya.com

Cacing sutra yang didapat dan masih bercampur dengan media budidaya dimasukkan ke dalam ember atau bak yang diisi air kira –kira 1 cm di atas media budidaya agar cacing sutera atau cacing rambut naik ke permukaan media budidaya dan dibiarkan selama enam jam. Setelah enam jam, cacing rambut yang menggerombol di atas media kemudian diambil dengan tangan. Dengan cara ini didapat hasil budidaya cacing sutra sebanyak 30 – 50 gram/m2 per dua minggu (dari berbagai sumber).