Tanaman budidaya sagu dapat hidup di daerah rawa dengan air tawar atau daerah rawa dengan gambut dan pada daerah yang berada di sepanjang aliran sungai. Dalam proses pertumbuhannya, tanaman budidaya sagu membutuhkan penyiraman yang cukup, akan tetapi penggenangan pada areal tanaman sagu membuat pertumbuhannya menjadi terganggu. Foto: kmnuipb.or.id

Mengenal Bibit dan Teknik Perbanyakan Tanaman Budidaya Sagu

December 29, 2016 - Tips Budidaya / Uncategorized

Sebagai tanaman budidaya pangan, popularitas tanaman budidaya sagu masih kalah jauh dengan popularitas tanaman budidaya padi. Namun demikian, di daerah tertentu di wilayah Indonesia, terutama daerah bagian timur yang penduduknya menjadikan tanaman budidaya sagu sebagai makanan pokoknya, peluang usaha budidaya sagu tetaplah menjanjikan.

Tanaman budidaya sagu kemungkinan berasal dari Maluku dan Irian. Hingga saat ini belum ada data yang mengungkap awal mula budidaya sagu mulai dikenal. Spesies tanaman budidaya sagu memiliki nama yang berbeda di masing-masing daerah, misalnya di Jawa Barat dikenal dengan nama kirai, di Ambon dikenal dengan nama lapia atau napia, di Gorontalo dikenal dengan nama tumba, di Toraja dikenal dengan nama Pogalo atau tabaro, dan di Kepualauan Aru dikenal dengan nama rambiam atau rabi.

Sentra lahan budidaya sagu di dunia adalah Indonesia dan Papua Nugini. Diperkirakan luasan areal budidaya sagu di dua Negara tersebut adalah 114.000 ha dan 20.000 ha. Sedangkan luas penanaman sagu sebagai tanaman liar di Indonesia adalah Irian Jaya, Maluku, Riau, Sulawesi Tengah dan Kalimantan.

Perlu diketahui peminat budidaya sagu, di kawasan Indo Pasifik terdapat 5 marga (genus) Palmae yang zat tepungnya telah dimanfaatkan, yaitu Metroxylon, Arenga, Corypha, Euqeissona, dan Caryota. Genus yang banyak dikenal adalah Metroxylon dan Arenga, karena kandungan acinya cukup tinggi.

Menurut ahli budidaya sagu, sagu dari genus Metroxylon, secara garis besar digolongkan menjadi dua, yaitu: yang berbunga atau berbuah dua kali (Pleonanthic) dan berbunga atau berbuah sekali (Hapaxanthic) yang mempunyai nilai ekonomis penting, karena kandungan karbohidratnya lebih banyak.

Golongan Metroxylon ini terdiri dari 5 varietas penting yaitu Metroxylon sagus,Rottbol atau sagu molat, kemudian Metroxylon rumphii, Martius atau sagu Tuni, Metroxylon rumphii, Martius varietas Sylvestre Martius atau sagu ihur, Metroxylon rumphii,Martius varietas Longispinum Martius atau sagu Makanaru, serta Metroxylon rumphii, Martius varietas Microcanthum Martius atau sagu Rotan. Dari kelima varietas tersebut, yang memiliki arti ekonomis penting adalah Ihur, Tuni, dan Molat.

Kondisi Ideal Lahan Budidaya Sagu

Tanaman budidaya sagu dapat tumbuh dengan optimal pada curah hujan berkisar antara 2000 hingga 4000 mm pertahun dan tersebar secara merata sepanjang tahun. Sagu dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 700 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Akan tetapi pada ketinggian 400 mdpl ditemukan produksi budidaya sagu terbaik. Suhu yang diperlukan pada budidaya sagu yaitu berkisar antara 24,50 hingga 29 derajat celsius, dan suhu minimal 15 derajat celcius dengan kelembaban nisbi 90 persen. Budidaya sagu dapat dilaksanakan di daerah dengan kelembaban nisbi udara 40%, namun demikian, kelembaban yang optimal untuk pertumbuhannya adalah 60%.

Tanaman budidaya sagu dapat hidup di daerah rawa dengan air tawar atau daerah rawa dengan gambut dan pada daerah yang berada di sepanjang aliran sungai. Dalam proses pertumbuhannya, tanaman budidaya sagu membutuhkan penyiraman yang cukup, akan tetapi penggenangan pada areal tanaman sagu membuat pertumbuhannya menjadi terganggu.

Pertumbuhan tanaman budidaya sagu yang paling baik adalah pada tanah liat kuning coklat atau hitam dengan kadar bahan organik tinggi. Sagu dapat tumbuh pada tanah vulkanik, latosol, andosol, podsolik merah kuning, alluvial, hidromorfik kelabu dan tipe-tipe tanah lainnya. Sagu mampu tumbuh pada lahan yang memiliki keasaman tinggi. Pertumbuhan yang paling baik terjadi pada tanah yang kadar bahan organiknya tinggi dan bereaksi sedikit asam pH 5,5 hingga 6,5.

Budidaya sagu paling baik di lahan yang mempunyai pengaruh pasang surut, terutama bila air pasang tersebut merupakan air segar. Lingkungan yang paling baik untuk pertumbuhannya adalah daerah yang berlumpur, dimana akar nafas tidak terendam. Pertumbuhan sagu juga dipengaruhi oleh adanya unsur hara yang disuplai dari air tawar, terutama potasium, fosfat, kalsium, dan magnesium.

Tanaman budidaya sagu dapat hidup di daerah rawa dengan air tawar atau daerah rawa dengan gambut dan pada daerah yang berada di sepanjang aliran sungai. Dalam proses pertumbuhannya, tanaman budidaya sagu membutuhkan penyiraman yang cukup, akan tetapi penggenangan pada areal tanaman sagu membuat pertumbuhannya menjadi terganggu. Foto: kmnuipb.or.id

Tanaman budidaya sagu dapat hidup di daerah rawa dengan air tawar atau daerah rawa dengan gambut dan pada daerah yang berada di sepanjang aliran sungai. Dalam proses pertumbuhannya, tanaman budidaya sagu membutuhkan penyiraman yang cukup, akan tetapi penggenangan pada areal tanaman sagu membuat pertumbuhannya menjadi terganggu. Foto: kmnuipb.or.id

Teknik Perbanyakan Tanaman Budidaya Sagu

Pembibitan pada budidaya sagu dapat dilakukan dengan cara generatif dan vegetatif. Pada cara generatif, benih tanaman budidaya sagu yang digunakan harus sudah tua dan rontok dari pohonnya, tidak terdapat cacat, memiliki besar rata-rata dan memiliki tunas. Benih tanaman budidaya sagu yang digunakan adalah biji yang berasal dari pohon induk yang baik, yang subur dan produksinya tinggi.

Sedangkan benih yang digunakan untuk pembibitan tanaman budidaya sagu secara vegetatif yaitu benih yang berasal dari tunas yang berumur kurang dari 1 tahun, dan memiliki berat 2 hingga 3 kg dengan diameter berkisar antara 10 hingga 13 cm. Tinggi anakan sekitar satu meter dan telah memiliki pucuk daun sebanyak 3 atau 4 lembar. Perbanyakan tanaman budidaya sagu secara vegetatif dapat dilakukan dengan menggunakan bibit berupa anakan yang melekat pada pangkal batang induknya yang disebut dangkel atau abut (jangan yang berasal dari stolon).

Penyemaian benih tanaman budidaya sagu dilakukan berdasar metode pembibitan, apakah menggunakan metode generatif atau vegetatif.

a). Cara generatif
Biji budidaya sagu yang digunakan berasal dari buah yang sudah tua dan jatuh/rontok dari pohon induk yang baik, yaitu subur dan produksinya tinggi, tumbuh pada lahan yang wajar serta produksi klon rata-rata tinggi. Biji/buah yang diambil tersebut adalah buah yang tidak cacat fisik, besarnya rata-rata, dan bernas.

b). Cara Vegetatif
Pembiakan secara vegatatif dapat dilakukan dengan menggunakan bibit tanaman budidaya sagu berupa anakan yang melekat pada pangkal batang induknya. Adapun cara pengadaan adalah sebagai berikut :
1. Pengambilan dengkel dipilih yang terletak di permukaan atas.
2. Pemotongan dilakukan di sisi kiri dan kanan sedalam 30 cm, tanpa membuang akar serabutnya.
3. Dangkel yang telah dipotong, dibersihkan dari daun-daun dan ditempatkan pada tempat yang mendapat cahaya matahari langsung dengan bagian permukaan belahan tepat pada tempat di mana cahaya matahari jatuh, selama 1 jam.
4. Luka bekas irisan dangkel yang msih tertanam segera dilumuri dengan zat penutup luka (seperti : TB-1982 atau Acid Free Coalteer) untuk mencegah hama dan penyakit.
5. Bibit sagu direndam dalam air aerobic selama 3-4 minggu. Setelah itu bibit ditanam.
6. Penyiapan dangkel sebaiknya dilakukan pada waktu menjelang sore hari, kemudian pada sore hari dangkel dikumpulkan dan pada waktu malam hari diangkut ke lahan, untuk menghindari kerusakan dangkel oleh cahaya matahari.

Penyemaian Benih dan Pemindahan Bibit Budidaya Sagu

Secara generatif penyemaian benih tanaman budidaya sagu dapat dilakukan dengan cara perkecambahan tidak langsung, penyiapan media, penataan bibit dan pembibitan, sebagai berikut:
1. Perkecambahan tak langsung
• Penyiapan media : Wadah atau bak dari bata atau bambu berukuran tinggi 30-40 cm, panjang tidak lebih dari 2 meter dan lebar 1,2 – 1,5 cm. Selanjutnya sepertiga bagian bawah diisi pasir dan atasnya serbuk gergaji basah.
• Penataan Bibit : bibit ditata dengan jarak 10 x 10 cm; 10 x 15 cm; atau 15 x 15 cm dengan posisi miring atau tegak, bagian lembaga diletakkan di bawah, ¾ bagian bibit ditekan dalam serbuk gergaji. Kelembaban media dijaga antara 80-90%. Setelah umur 1-2 bulan dan sudah berdaun 2-3 lembar, bibit dipindah ke bedeng pembibitan.

2. Pembibitan (Perkecambahan tak langsung di media pembibitan)
• Penyiapan media : Tanah diolah sedalam 45-60 cm, digemburkan dan ditambah pupuk dasar. Ukuran bedeng tinggi 30 cm; lebar 1,25 m; dan panjang + 8-10 dengan jarak antar bedengan 30-50 cm.
• Pengaturan pembibitan tanpa penjarangan : Bibit ditanam dengan jarak 25 x 25cm sampai dengan 40 x 40 cm. Pengaturan pembibitan dengan penjarangan : Pada mulanya bibit ditanam dengan jarak rapat, yaitu 12,5 x 12,5 cm; 15 x 15 cm; atau 20 x 20 cm.

Sedangkan cara pemeliharaan penyemaian bibit tanaman budidaya sagu secara generatif dengan penjarangan :
1. Dilakukan setelah satu bulan, yaitu menjadi 25 x 25 cm; atau 40 x 40 cm.
2. Selama masa penyemaian kelembaban dipertahankan 80 – 90 %
3. Diberi naungan agar tidak kena cahaya matahari langsung.
4. Penyiraman dilakukan setiap saat.

Selanjutnya yang perlu dietahui peminat budidaya sagu adalah teknik pemindahan bibit menuju areal budidaya sagu. Jika bibit tanaman budidaya sagu yang hendak ditanam berasal dari metode generatif, maka pemindahan bibit ke kebun dilakukan ketika usia tanam mencapai 6 hingga 12 bulan.

Jika bibit tanaman budidaya sagu yang hendak ditanam berasal dari metode vegetatif, maka setelah bibit diambil dapat langsung ditanam di lahan budidaya sagu yang telah dipersiapkan (dari berbagai sumber).

Baca Juga:
Pemanfaatan Tanaman Budidaya Sagu di Indonesia

Penyiapan Lahan dan Perawatan Tanaman Budidaya Sagu

Pengendalian Hama dan Penyakit Pada Budidaya Sagu

Tips Pemanenan Hasil Budidaya Sagu

 

› tags: Budidaya Sagu / Generatif / Lahan Budidaya Sagu / Tanaman Pangan / Vegetatif /