engenalan hama dan penyakit tanaman budidaya bawang putih menjadi penting karena hal ini dapat mengurangi risiko kerugian akibat gagal panen karena serangan hama dan penyakit. Foto: garden-larder.blogspot.com

Mengatasi Hama dan Penyakit Pada Budidaya Bawang Putih

October 7, 2016 - Tips Budidaya / Uncategorized

Pada budidaya bawang putih, pengendalian hama dan penyakit merupakan faktor penting untuk menjaga tingkat produksi hasil budidaya bawang putih. Pengenalan hama dan penyakit tanaman budidaya bawang putih menjadi penting karena hal ini dapat mengurangi risiko kerugian akibat gagal panen karena serangan hama dan penyakit.

Selain hama dan penyakit, pada budidaya bawang putih, penurunan produksi sebagai akibat adanya berbagai gulma dapat mencapai 80 persen. Tumbuhnya gulma di lahan budidaya bawang putih dapat terjadi, terutama bila pemberian mulsa kurang baik sehingga pertumbuhan rumput subur.

Jeni gulma yang sering dijumpai di lahan budidaya bawang putih, yakni rumput teki, rumput kakawatan, dan bayam liar (duri). Serangan gulma di lahan budidaya bawang putih dapat diatasi dengan melakukan penyiangan tanaman pada umur 30 dan 60 hari. Pada lahan budidaya bawang putih dalam skala besar, penggunaan herbisida dalam pengendalian gulma dapat dilakukan.

Penyiangan tanaman budidaya bawang putih serta perbaikan bedengan dilakukan dengan selang waktu 20-30 hari. Frekuensi penyiangan gulma tersebut dapat ditambah jika laju pertumbuhan gulma cukup pesat. Ketika tanaman budidaya bawang putih masuk fase generatif, penyiangan tidak lagi dilakukan karena dapat mengganggu proses pembentukan dan pembesaran umbi.

Sementara, Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang menyerang tanaman budidaya bawang putih, terbilang cukup banyak. Tercatat ada sekitar 19 OPT yang rawan menyerang tanaman budidaya bawang putih, diantaranya adalah Thrips tabaci, Spodoptera exigua, Fusarium sp, Alternaria porii, Onion Yellow Dwarf Virus (OYDV), serta yang lainnya.

Pengendalian OPT dapat dilakukan dengan sistem PHT, yaitu lewat penggunaan benih sehat, pengendalian kultur teknis, musuh alami, penggunaan perangkap, sanitasi, dan pestisida sesuai ambang pengendalian.

Hama Tanaman Budidaya Bawang Putih

Hama yang umum menyerang tanaman budidaya bawang putih, antara lain kutu bawang, ulat daun, ulat grayak, nematoda akar, hama Agrotis interjectionis Gn, dan lain-lain.

a. Kutu bawang (Thips tabaci Lindeman).
Serangga ini masuk ke tanaman budidaya bawang putih dalam bentuk masih larva dan dewasa dengan cara mengisap cairan tanaman, baik pada daun maupun pada bagian lain. Gejala: daun yang terserang berubah menjadi kuning dan akhirnya keperak-perakan atau coklat serta mengerut/mengeriting dan lama-kelamaan menjadi layu.

Pengendalian hama kutu bawang yang menyerang tanaman budidaya bawang putih dapat dilakukan dengan cara membakar sisa tanaman setelah panen atau dengan kimia. Pemberantasan secara kimia dilakukan dengan insektisida seperti basudin 60 EC yang merupakan insektisida dalam bentuk cairan kental dengan bahan aktif diazonon yang termasuk ke dalam golongan organofosfat. Konsentrasi larutan yang digunakan adalah 0,2 prosen, maksudnya 2 ml Basudin dilarutkan kedalam 1 liter air. Dan Bayrusil 250 EC adalah insektisida yang bekerja secara racun kontak. Konsentrasi larutan yang digunakan adalah 2 cc/liter air.

b. Ulat daun (Sporodoptera litura.)

Ulat yang menyerang daun tanaman budidaya bawang putih ini mempunyai ciri khas, yaitu pada ruas perut yang keempat dan kesepuluh terdapat bentuk bulan sabit berwarna hitam dan dibatasi garis kuning pada samping dan punggungnya. Gejala: ditandai dengan adanya bekas gigitan pada bagian ujung dan pinggir daun. Ulat ini umumnya menyerang tanaman yang masih muda.

Pengendalian serangan ulat daun yang menyerang tanaman budidaya bawang putih dilakukan dengan mengambil telur dan ulat yang baru menetas diambil bersama daun yang ditempelinya. Pengambilan dilakukan segera mungkin karena pertumbuhan ulat ini cepat dan dapat bersembunyi dalam tanah. Pemberantasan dengan kimia dapat dilakukan dengan Azodrin 15 WSC dengan dosis 3-4 cc/liter air. Volume penyemprotannya 400-600 liter/ha.

c. Ulat grayak (Sporodoptera exigua Hbn.)
Serangan ulat grayak pada tanaman budidaya bawang putih ditandai dengan daun tanaman yang nampak terkulai seperti layu, berwarna putih, bagian daun yang diserang adalah bagian dalam, yang ditinggalkan hanya lapisan epidermis, sehigga daun nampak seperti membran., hama ini dapat dikendalikan jika dilakukan pergiliran tanaman.

Pengendalian hama ulat grayak yang menyerang tanaman budidaya bawang putih dilakukan dengan cara mengumpulkan dan memusnahkan tekur yang ada pada ujung daun. Secara kimia hama ini dapat diberantas dengan insektisida, misalnya Azodrin 15 WSC. Dosis yang digunakan 3-4 cc/liter air dengan volume penyemprotan 400-600 liter/ha.

d. Agrotis interjectionis Gn
Hama ini menyerang tanaman budidaya bawang putih pada malam hari, pada siang hari bersembunyi di dalam tanah. Panjang tubuhnya antara 30 – 35 mm, berwarna coklat tua dan kadang-kadang tertutup dengan butiran tanah. Hama ini banyak terdapat di dataran rendah sampai ketinggian 1.500 m dpl.

Tanaman budidaya bawang putih yang diserang adalah tanaman yang muda. Akibat serangannya tanaman menjadi rebah karena hama ini memotong bagian leher umbi, kadang-kadang juga memakan daun bawang.

Pengendalian kimia: (1) Diazinon. Insektisida ini ada 2 jenis, yaitu Diozinon 60 EC dan Diazinon 10 G. Keduanya berbahan aktif diazinon sebanyak 60% untuk Diazinon 60 EC dan 10% untuk Diazinon 10 G. Untuk pemberantasan dapat digunakan Diazinon 60 EC dengan konsentrasi 1-2 cc/liter air. Dapat juga menggunakan Diazinon 10 G ditaburkan di sekitar perakaran tanaman seperti melakukan pemupukan. Dengan cara ini, racunnya akan terisap oleh tanaman dan membunuh hama yang memakan bagian tanaman tersebut. (2) Insektisida lain yang dapat digunakan adalah Tamaron dengan konsentrasi 1-2 cc/liter air dan Bayrusil 25 EC dengan konsentrasi 2 cc/liter air.

e. Nematoda akar (cacing Ditylenchus dipsaci.)
Serangan nematoda akar mengakibatkan umbi tanaman budidaya bawang putih menjadi lunak, pangkal titik tumbuhnya menjadi bengkak dan ujung akarnya menjadi kering serta busuk. Serangannya juga mengakibatkan daun menjadi kerdil, mula-mula menggulung dan terlipat kemudian menguning dan pucuk-pucuk daun menjadi kering.

Pengendalian tanaman budidaya bawang putih yang terserang dilakukan dengan Furadan 3 G dan dapat pula dengan Nemagon. Hama-hama lainnya yang sering menyerang tanaman bawang putih diantaranya ulat bawang, lalat bawang dan tungau.

engenalan hama dan penyakit tanaman budidaya bawang putih menjadi penting karena hal ini dapat mengurangi risiko kerugian akibat gagal panen karena serangan hama dan penyakit. Foto: garden-larder.blogspot.com

engenalan hama dan penyakit tanaman budidaya bawang putih menjadi penting karena hal ini dapat mengurangi risiko kerugian akibat gagal panen karena serangan hama dan penyakit. Foto: garden-larder.blogspot.com

Penyakit Tanaman Budidaya Bawang Putih

Pada budidaya bawang putih, penyakit yang rawan menyerang antara lain adalah penyakit bercak ungu, penyakit embun bulu, penyakit busuk fusarium, penyakit bercak daun, dan penyakit lainnya.

a. Penyakit bercak ungu
Pada budidaya bawang putih penyebab penyakit bercak ungu adalah cendawan Alternariab porii (Ellis) Cif. Infeksi cendawan biasanya terjadi pada saat tanaman membentuk umbi atau pada saat cuacanya mendukung dapat menyerang tanaman yang masih muda.

Gejala serangan penyakit ini pada tanaman budidaya bawang putih terlihat dengan adanya bercak kecil berwarna putih kemudian membesar dan berubah menjadi ungu, ditengahnya terdapat titik hitam dan dikelilingi oleh daerah berwarna kuning yang dapat meluas. Lama-kelamaan bercak ini tertutup oleh warna coklat tua yang badan buah cendawan (spora) yang sewaktu-waktu dapat menyebar terbawa angin/terbawa oleh seranngga sehingga menyebar ke tanaman lain.

Pengendalian tanaman budidaya bawang putih yang terkena penyakit ini dengan Dithane M-45 dengan konsentrasi 180-240 gram/100 liter air yang dicampurkan dengan bahan perekat Triton sebanyak 0,02-0,05 % dan dapat pula menggunakan Antracol dengan konsentrasi 2 gram/liter air. Penyemprotan dilakukan pada saat tanaman berumur 2 minggu dengan interval 5-7 hari.

b. Penyakit embun bulu (blorok, downy mildew)

Penyebab penyakit embun bulu yang menyerang budidaya bawang putih adalah cendawan, yaitu Perenospora destructor (Berk) Casp. Cendawan ini membentuk spora sebagai alat perkembangbiakan seksualnya. Spora tersebut dihasilkan pada malam hari atau pada saat suhu udara rendah, sekitar 10 derajat C. Spora cendawan ini berwarna biru keabu-abuan.

Gejala tanaman budidaya bawang putih yang terserang penyakit ini daunnya menjadi berbintik-bintik abu-abu atau hijau pucat. Biasanya bintik-bintik ini berada di ujung daun dan terjadi pada awal pembentukan umbi. Bintik-bintik ini cepat melebar dan warnanya menjadi ungu jika keadaan cuaca mendukung, yaitu keadaan udara lembab, berembun, atau turun hujan. Pada akhirnya dapat mengakibatkan tanaman kering dan mati.

Pengendaliannya adalah dengan fungisida, yaitu Antracol dan Dithane. Caranya sama dengan pada penyakit bercak ungu.

c. Penyakit busuk fusarium
Penyebab penyakit busuk fusarium yang menyerang budidaya bawang putih adalah cendawan Fusarium sp. Gejala: daun menjadi layu, dimulai dari ujung daun. Penyakit ini juga dapat menyerang bawang putih setelah panen atau saat penyimpanan, baik di gudang maupun di pasar. Serangan umumnya terjadi pada umbi-umbi yang terluka akibat penanganan panen dan pascapanen yang kurang teliti. Bagian yang terinfeksi permukannya basah, lalu menjadi lunak dan akhirnya busuk berwarna cokelat.

Pengendalian tanaman budidaya bawang putih yang terseang adalah dengan fungisida seperti Benlate dengan konsentrasi 2,5-5 gram/10 liter air. Penyemprotan dilakukan seminggu sekali. Apabila penyakit ini menyerang tanaman yang disimpan, maka sulit diatasi. Untuk itu pada saat panen jangan sampai umbi ada yang terluka.

d. Penyakit bercak daun cercospora

Penyebab penyakit bercak daun cercospora yang menyerang budidaya bawang putih adalah cendawan Cercospora duddiae Welles. Gejala penyebab penyakit embun bulu yang menyerang budidaya bawang putih yakni adanya bercak klorosis, bulat dan berwarna kuning merupakan gejala awal penyakit ini.

Bercak yang terjadi bergaris tengah kurang lebih 3-5 mm dan paling banyak terjadi pada ujung daun bagian luar. Pengendaliannya sama dengan cara pengendalian penyakit bercak ungu.

e. Penyakit lain
Penyakit lain adalah karat daun yang disebabkan oleh Puccinia porii, busuk lunak oleh Sclerotium cepivorum, busuk jingga oleh Pyrenochaeta terrestris, dan virus mosaik.

Demikianlah informasi singkat seputar budidaya bawang putih, khususnya mengenai pemeliharaan tanaman dari gulma dan OPT, pengenalan hama dan penyakit tanaman budidaya bawang putih, hingga cara pengendaliannya (dari berbagai sumber).

 

Baca Juga:

Sejarah dan Manfaat Budidaya Bawang Putih,

Tips Pemeliharaan Tanaman Budidaya Bawang Putih,

Tips Pemanenan dan Pasca Panen Pada Budidaya Bawang Putih

› tags: budidaya bawang putih /