Menakar Potensi Budidaya Udang Windu

August 26, 2016 - Tips Budidaya / Uncategorized

Usaha budidaya udang windu di Indonesia saat ini memang hampir kalah bersaing dengan udang vaname. Meskipun harganya sedikit lebih tinggi, namun menurut anggapan petani, budidaya udang windu lebih sulit dari budidaya udang vaname.

Karenanya, budidaya udang vaname saat ini menjadi primadona dibanding budidaya udang di windu di Indonesia.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Subijakto menjelaskan, meski petani banyak yang berminat untuk membudidayakan udang vaname, namun budidaya udang windu justru dinilai memiliki peluang pasar lebih besar. Dengan kondisi tersebut, KKP akan mendorong peningkatan produksi budidaya udang windu dari sekarang hingga ke depan.

Menurut Slamet, budidaya udang windu harus dikembangkan karena udang windu merupakan udang asli Indonesia. Meskipun saat ini, produksinya masih kalah dengan udang vaname, tetapi pasar untuk hasil budidaya udang windu masih terbuka lebar, sehingga tetap perlu didukung dengan ketersediaan induk dan benih yang kontinyu.

Progres Hasil Budidaya Udang Windu

Walau dari sisi produktivitas, hasil budidaya udang windu masih kalah dari udang vaname yang terkenal tahan dari serangan penyakit, namun budidaya udang windu dalam waktu lima tahun terakhir terus memperlihatkan produksi meningkat. Selama kurun waktu 2010-2014, produksi hasil budidaya udang windu mencapai kenaikan rerata 4,81% per tahun.

Pada 2010 hasil produksi budidaya udang windu masih 125.519 ton, namun kemudian pada 2014 angkanya naik menjadi 131.809 ton. Untuk 2015, angka sementara mencapai 201.312 ton atau 20% dari total produksi nasional.

Slamet memaparkan, hingga saat ini, produksi hasil budidaya udang windu sebagian besar disumbang dari budidaya dengan sistem tradisional hingga tradisional plus. Cara tersebut biasa ditemui di Provinsi Kalimantan Timur.

Cara budidaya udang windu dengan sistem ini didukung pemerintah karena selaras dengan keberlanjutan. Kedepan, pemerintah akan mendukung dengan membenahi saluran irigasi di tambak-tambak tradisional tersebut sehingga kontinuitas produksi hasil budidaya udang windu di wilayah ini dapat terwujud.

Meskipun saat ini, produksinya masih kalah dengan udang vaname, tetapi pasar untuk hasil budidaya udang windu masih terbuka lebar, sehingga tetap perlu didukung dengan ketersediaan induk dan benih yang kontinyu. Foto: carabudidaya88.blogspot.com

Saat ini, dari seluruh provinsi yang mengembangkan budidaya udang windu, Kaltim masih memegang rekor sebagai sentra produksi udang windu nasional.

Potensi Kalimantan Timur cukup besar untuk pengembangan budidaya udang windu ini. Saat ini yang perlu ditekankan adalah budidaya udang windu dengan memperhatikan keberlanjutan, baik keberlanjutan lingkungan maupun keberlanjutan usaha. Dua hal ini harus berjalan beriringan, menuju kejayaan budidaya udang windu seperti pada tahun 90-an.

Mengatasi Risiko Budidaya Udang Windu

Walau masuk dalam komoditas yang digenjot KKP, namun budidaya udang windu hingga saat ini dinilai masih memiliki kerentanan yang tinggi dibandingkan dengan udang vaname. Kerentanan tersebut, karena ternak budidaya udang windu masih gampang terserang penyakit atau virus yang bisa menimbulkan kematian.

Slamet Subijakto sendiri sudah mengakui tentang kerentanan ternak budidaya udang windu tersebut. Menurut dia, saat ini pihaknya akan terus mensosialiasikan tata cara budidaya udang windu yang aman dan baik. Tata cara tersebut, menyangkut dengan kesehatan udang yang sedang dibudidayakan dikaitkan dengan lingkungan sekitar.

Pemerintah menilai budidaya udang windu memang rentan dan akan memandu petani untuk bisa bertahan dan berhasil membudidayakannya. KKP juga akan memberikan bantuan benih-benih budidaya udang windu yang berkualitas bagus.
Pernyataan Slamet tersebut untuk menyikapi kematian masal ternak budidaya udang windu di Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, yang terjadi menjelang akhir 2015 lalu. Saat itu, ternak budidaya udang windu yang mati jumlahnya mencapai 40 ton dengan kerugian ditaksir mencapai Rp40 miliar.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Subang Musril saat itu mengatakan, melihat kondisi fisik udang yang mati, kemungkinan karena ada serangan white spot syndrome virus. Virus tersebut adalah jenis penyakit yang menginfeksi organ penting dan menyebabkan kematian sampai 100% dalam waktu 3-10 hari setelah adanya gross sign.

Demikian potensi, perkembangan, dan risiko budidaya udang windu berikut upaya pengendaliannya, semoga bermanfaat dan menambah wawasan mengenai budidaya udang windu (dari berbagai sumber).