Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha budidaya sapi untuk tujuan penggemukan atau sapi potong  di Indonesia antara lain adalah sapi bali, sapi madura, sapi aceh, sapi ongole, sapi brahman, sapi limosin, sapi berdeen angus, sapi simental, dan lain-lain. Foto: deviantart.net

Melihat Peluang Budidaya Sapi Di Indonesia

September 27, 2015 - Tips Budidaya / Uncategorized

Salah satu bagian usaha dalam budidaya sapi adalah usaha penggemukan sapi potong. Usaha penggemukan sapi adalah pilihan tepat bagi pelaku budidaya sapi yang belum memiliki pengalaman mumpuni dalam usaha peternakan sapi. Dalam budidaya sapi khususnya usaha penggemukan adalah adalah memelihara sapi yang baru memasuki usia dewasa dan belum memiliki bobot badan yang optimal.

Kunci budidaya sapi untuk penggemukan ini adalah ketepatan dalam memilih bakalan. Bakalan atau bibit budidaya sapi merupakan faktor yang penting karena sangat menentukan hasil akhir usaha penggemukan. Ada banyak jenis sapi yang biasanya dijadikan bakalan dalam budidaya sapi untuk tujuan penggemukan ini. Untuk lebih mengenal manfaat dan cara memilih bibit budidaya sapi yang baik silahkan simak tulisan berikut.

Dalam budidaya sapi khususnya usaha penggemukan adalah adalah memelihara sapi yang baru memasuki usia dewasa dan belum memiliki bobot badan yang optimal. Foto: www.tokopedia.com

Dalam budidaya sapi khususnya usaha penggemukan adalah adalah memelihara sapi yang baru memasuki usia dewasa dan belum memiliki bobot badan yang optimal. Foto: www.tokopedia.com

Manfaat Dan Tips Memilih Bibit Budidaya Sapi Yang Baik

Usaha budidaya sapi potong khususnya bisnis pembesaran atau penggemukan dapat dipilih karena usaha ini tidaklah rumit karena segala kebutuhan untuk budidaya sapi telah tersedia di Pasaran. Permintaan akan daging sapi juga sangat besar, terutama pada saat musim hari raya, baik pada saat Idul Fitri maupun pada saat lebaran kurban atau Idul Adha.

Waktu pemanenan hasil budidaya sapi juga cukup singkat yakni hanya 3 hingga 6 bulan. Limbah budidaya sapi seperti tanduk, kulit, jeroan, hingga kotorannya dapat dijual atau diolah kembali menjadi beragam benda yang juga memiliki nilai ekonomis.

 Waktu pemanenan hasil budidaya sapi juga cukup singkat yakni hanya 3 hingga 6 bulan. Foto: ternakonline.files.wordpress.com


Waktu pemanenan hasil budidaya sapi juga cukup singkat yakni hanya 3 hingga 6 bulan. Foto: ternakonline.files.wordpress.com

Pada budidaya sapi pemilihan bakalan memerlukan ketelitian, kejelian dan pengalaman. Adapun ciri-ciri bakalan yang baik adalah berumur di atas 2,5 tahun dan berasal dari silsilah yang jelas. Berjenis kelamin jantan, pandangan mata bersinar cerah, tak ada kotoran dan berair, pernapasan baik, tak ada lender dari hidung, kulit mulus, dan memiliki bulu yang halus. Bakalan ternak sapi potong yang ideal memiliki postur tubuh yang memanjang, bulat dan lebar, panjang minimal 170 cm tinggi pundak minimal 135 cm, lingkar dada 133 cm.

Bibit budidaya sapi sebaiknya dipilih dari bakalan yang memiliki tubuh kurus, tulang menonjol, tetapi tetap sehat. Tanda bibit budidaya sapi lainnya yang menunjukkan keadaanya sehat adalah kukunya baik, tak ada bengkak, bila diraba tak terasa panas, kemudian bagian dubur bersih tak terlihat bekas mencret dan kotorannya yang normal.

Mengenal Bibit Budidaya Sapi

Bakalan atau bibit budidaya sapi yang biasa digunakan oleh peternak sapi pelaku usaha penggemukan di Indonesia merupakan bibit sapi unggul yang memiliki kemampuan dalam menambah massa bobot badan dalam tempo yang singkat serta efisien dalam konsumsi pakan. Bibit budidaya sapi yang ada di Indonesia berasal dari hasil impor bakalan dan indukan sapi luar negeri, sapi lokal, maupun hasil persilangan antara sapi impor dan sapi lokal.

Perkembangan teknologi budidaya sapi memungkinkan bibit atau bakalan dan induk sapi impor dari Amerika, Eropa, Australia yang mempunyai iklim sub tropis bisa dibudidayakan di Indonesia. Sapi-sapi tersebut memiliki keunggulan dalam ukuran tubuh dan pertumbuhan dagingnya.

Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha budidaya sapi untuk tujuan penggemukan atau sapi potong di Indonesia antara lain adalah sapi bali, sapi madura, sapi aceh, sapi ongole, sapi brahman, sapi limosin, sapi berdeen angus, sapi simental, dan lain-lain.

Bibit bakalan budidaya sapi yang berasal dari jenis sapi bali memiliki ciri berwarna coklat kemerahan dengan warna putih pada kaki dari lutut ke bawah dan pada pantat, punggungnya bergaris warna hitam (garis belut). Sapi bali merupakan jenis sapi lokal yang paling banyak diternakkan di Indonesia. Disukai karena tekstur dagingnya yang lembut dan sedikit lemak. Keunggulan sapi ini dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang baru. Ternak sapi bali sangat cocok untuk daerah tropis dengan ketinggian di bawah 100 meter dpl. Budidaya sapi jenis sapi bali banyak dilakukan di daerah Bali, NTB, NTT dan Sulawesi.

Bibit bakalan budidaya sapi yang berasal dari jenis sapi ongole yang berasal dari India cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, postur tubuhnya agak panjang, leher sedikit pendek dan kaki terlihat panjang.

Ternak sapi ongole memiliki daya adaptasinya yang baik terutama di daerah beriklim tropis seperti Indonesia. Hanya saja pertumbuhannya cenderung lambat. Sapi ini akan mencapai dewasa pada umur 4-5 tahun. Banyak pelaku budidaya sapi yang menyilangkan ternak sapi ongole dengan jenis lain.

Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha budidaya sapi untuk tujuan penggemukan atau sapi potong  di Indonesia antara lain adalah sapi bali, sapi madura, sapi aceh, sapi ongole, sapi brahman, sapi limosin, sapi berdeen angus, sapi simental, dan lain-lain. Foto: deviantart.net

Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha budidaya sapi untuk tujuan penggemukan atau sapi potong di Indonesia antara lain adalah sapi bali, sapi madura, sapi aceh, sapi ongole, sapi brahman, sapi limosin, sapi berdeen angus, sapi simental, dan lain-lain. Foto: deviantart.net

Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah. Selain itu adapula hasil persilangan budidaya sapi ongole dengan sapi asal sumba yang diberi nama Sumba Ongole (S0).

Kemudian adapula bibit budidaya sapi Brahman yang berwarna coklat hingga coklat tua, dengan warna putih pada bagian kepala. Daya pertumbuhannya cepat, sehingga menjadi primadona budidaya sapi potong di Indonesia.

Ternak sapi madura memiliki ciri berpunuk, berwarna kuning hingga merah bata, terkadang terdapat warna putih pada moncong, ekor dan kaki bawah. Jenis sapi ini mempunyai daya pertambahan berat badan rendah.

Bibit budidaya sapi limosin berciri memiliki kulit warna hitam bervariasi dengan warna merah bata dan putih, terdapat warna putih pada moncong kepalanya, tubuh berukuran besar dan mempunyai tingkat produksi yang baik.