Maksimalkan Lahan Kosong Dengan Budidaya Terong

May 22, 2015 - Tips Budidaya / Uncategorized

Budidaya terong (Solanum melongena) merupakan salah satu pilihan terbaik dalam memanfaatkan lahan kosong. Seperti kita ketahui luasnya wilayah nusantara menyebabkan banyak lahan yang belum termanfaatkan secara optimal, di sana sini masih banyak terdapat lahan kosong yang bila dimanfaatkan untuk budidaya pertanian, salah satunya budidaya terong dapat menjadi sumber pendapatan keluarga.

Budidaya terong dilakukan karena buahnya bermanfaat sebagai bahan sayuran dan lalapan yang kaya sumber vitamin. Foto: togetherinfood.wordpress.com

Budidaya terong dilakukan karena buahnya bermanfaat sebagai bahan sayuran dan lalapan yang kaya sumber vitamin. Mengkonsumsi buah terong dapat mengurangi risiko serangan jantung, menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan kolesterol, mencegah aterosklerosis, mencegah diabetes, dan beragam manfaat lainnya.

Mengenal Budidaya Terong

Catatan tertua mengenai budidaya terong ditemukan dalam naskah mengenai pertanian dari Cina Kuno yang ditulis pada tahun 544. Budidaya terong kemudian menyebar ke Asia dan Afrika, hingga akhirnya dikenal oleh masyarakat Eropa pada abad ke 15. Di Indonesia budidaya terong tersebar sejak lama, bahkan sejumlah daerah memiliki sebutan berbeda untuk terong, misalnya trueng di Aceh, tiung di Lampung, tuung di Bali, turung di Ambon, turium di Papua, fofoki di Ternate, antibu di Gorontalo, dan masih banyak sebutan lainnya untuk terong di daerah lain di Indonesia

Budidaya terong dilakukan dengan mempersiapkan bedengan dengan tinggi 40 cm dan lebar sekitar 120 cm yang dipisahkan oleh parit selebar 50 hingga 70 cm atau lebih. Foto: www.southernvalley.us

Budidaya terong dapat dilaksanakan di lahan yang berada di ketinggian hingga 1.200 meter di atas permukaan laut dengan temperature antara 18 hingga 25 derajat celcius. Budidaya terong dilakukan dengan mempersiapkan bedengan dengan tinggi 40 cm dan lebar sekitar 120 cm yang dipisahkan oleh parit selebar 50 hingga 70 cm atau lebih. Lahan budidaya terong sebelumnya dicampur dengan pupuk kandang sebanyak 20 ton per hektar dan pupuk NPK 15:15:15 sebanyak 150 kg. Mulsa dapat dipasang sebagai menutupi permukaan bedengan untuk mengendalikan hama penyakit tanaman.

Selanjutnya di lahan budidaya terong dibuat lubang tanam dengan jarak tanam 60 x 60 cm. Bibit budidaya terong yang sebelumnya disemai di polibag dipindahkan ke lahan setelah memiliki 4 helai daun sejati.

Kebun Budidaya Terong

Pemeliharaan di kebun budidaya terong meliputi kegiatan penyulaman atau pencabutan dan penggantian tanaman yang rusak, pengendalian gulma dengan menyiangi rumput dan membersihkan semak dan tanaman penganggu di lahan budidaya terong. Pemupukan dapat dilakukan saat tanaman berusia 15 hari setelah tanam (HST), yang dilanjutkan pada 35 HST dan 50 HST.

Kemudian pelaku budidaya terong juga harus memperhatian pemeliharaan sanitasi dan pengairan, pengendalian hama dan penyakit. Hama yang berpotensi menyerang budidaya terong antara lain kutu daun, kutu kebul, ulat grayak, tanah, ulat buah, lalat buah dan kembang kuning. Sementara penyakit pada budidaya terong meliputi layu bakteri, layu fosarium, busuk phyptotora, rebah semai, bercak daun dan antraknosa.

Pada budidaya terong pemanenan perdana dapat dilakukan setelah 70 hingga 80 HST. Foto: gadurampes.blogspot.com

Pada budidaya terong pemanenan perdana dapat dilakukan setelah 70 hingga 80 HST. Selanjutnya, pemanenan di kebun budidaya terong dapat dilakukan setiap 3 hingga 7 hari sekali. Pada satu musim budidaya terong, pemanenan dapat dilaksanakan sekitar 13 hingga 15 kali atau bahkan lebih jika dilaksanakan secara intensif.

Hasil budidaya terong sebaiknya dipanen pada pagi atau sore hari. Cara pemanenan pada budidaya terong adalah dengan memetik tangkainya yang sebaiknya dilakukan menggunakan gunting atau dapat juga langsung dengan tangan jika sudah ahli. Usai dipanen sebaiknya hasil budidaya terong segera dipasarkan karena buah terong tak dapat bertahan lama.