Catatan Singkat Tentang Budidaya Walet

April 8, 2015 - Tips Budidaya / Uncategorized

Budidaya walet menarik perhatian peternak karena memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Budidaya walet dapat membuat peternak kaya raya dalam waktu yang relatif singkat. Sebetulnya, pada budidaya walet yang diambil adalah air liur atau saliva namun orang sudah terlanjur mengenalnya sebagai sarang burung walet. Harga sarang hasil budidaya walet perkilonya bisa mencapai belasan juta rupiah tergantung pada kualitasnya. Sarang burung walet dibagi menjadi empat kelas, yakni sarang kelas satu yakni sarang yang berwarna putih, bersih, bebas dari bulu burung dan kotoran lainnya.

Budidaya walet dapat membuat peternak kaya raya dalam waktu yang relatif singkat. Foto: ferdfound.wordpress.com

Pada budidaya walet yang diambil adalah air liur atau saliva namun orang sudah terlanjur mengenalnya sebagai sarang burung walet. Foto: www.firstimperialbirdsnest.com

Pelaku budidaya walet dan konsumen kelas atas sangat menyukai sarang kelas satu yang terbuat dari air liur burung walet ini. Sarang kelas dua, berwarna putih tanpa bulu burung namun sedikit kotor karena sarang ini dipanen saat walet sedang bertelur. Sarang kelas tiga terbuat dari campuran air liur dan bulu burung sehingga kondisinya agak kotor. Sarang kelas empat adalah sarang yang kotor akibat telah digunakan walet untuk menetaskan telurnya.

Dalam budidaya walet juga dikenal sarang berwarna merah yang sangat jarang ditemui sehingga memiliki harga yang lebih tinggi. Sebetulnya, sarang walet berwarna merah ini berasal dari campuran dari air liur dan darah walet. Kadang kala, pelaku budidaya walet mengakali dengan menaruh banyak air dan campuran amoniak di dalam rumah burung walet untuk membuat sarang berwarna merah. Harganya bisa sedikit lebih mahal dari sarang putih tetapi masih dibawah harga sarang walet warna merah yang alami karena memang berbeda.

Pada budidaya walet dikenal pula tiga bentuk sarang burung walet yakni bentuk mangkok, segitiga, dan oval atau sudut manis. Sarang mangkok adalah sarang yang bentuknya paling baik dan memiliki harga yang lebih tinggi, sarang ini dibuat burung walet di tengah papan sirip. Sarang berbentuk segitiga atau sarang sudut adalah sarang yang dibuat walet apada sudut-sudut papan. Sedangkan sarang oval atau sudut manis adalah sarang yang didirikan oleh burung walet pada sudut papan yang diberi tambahan kayu segitiga oleh peternak untuk menciptakan bentuk yang unik dengan tujuan mendongkrak harga jual.

Sejarah Budidaya Walet

Budidaya walet awalnya tak dikenal karena selama berabad-abad, sarang walet didapatkan di gua-gua yang berada jauh di pedalaman hutan dan gunung serta di gua-gua karang terjal di tepian pantai. Walau sulit didapat, perburuan sarang walet gencar dilakukan hingga membuat kelangsungan hidup burung-burung ini terancam dan kemudian mencari tempat baru untuk bersarang. Bangunan tak berpenghuni kemudian menjadi pilihan bagi walet untuk hidup bersama kelompoknya. Orang-orang yang memperhatikan hal ini kemudian berpikir dan mengembangkan bagaimana teknik budidaya walet.

Budidaya walet awalnya tak dikenal karena selama berabad-abad, sarang walet didapat dari alam.
Foto: speakupforthevoiceless.org

Di Indonesia, budidaya walet rumahan baru berkembang sekitar tahun delapan puluhan. Konon, budidaya walet dilakukan oleh warga Gresik yang awalnya kaget melihat rumahnya yang lama tak dihuni berubah menjadi sarang burung walet. Sadar akan mahalnya harga sarang burung walet, ia memutuskan pindah dan menjadikan rumah lamanya sebagai rumah burung walet.

Seiring waktu, budidaya walet makin berkembang dengan semakin maraknya seminar dan penelitian mengenai teknik budidaya walet. Diketahui, sarang burung walet yang dapat dikonsumsi manusia berasal dari tiga jenis burung walet, yakni Collocalia fuciphaga, Collocalias maxima dan Collocalia esculenta yang lebih dikenal dengan nama burung sriti.

Pada budidaya walet di Indonesia, Collocalia fuciphaga adalah jenis burung walet yang paling dicari karena air liurnya mampu menghasilkan sarang berwarna putih bersih. Sebaran burung walet ini ada di Cina Selatan dan wilayah Asia Tenggara. Burung walet ini berukuran sekitar 12 sentimeter, memiliki bulu coklat kehitaman pada bagian dada, warna punggung lebih kelabu, paruh dan kaki berwarna hitam, serta memiliki ekor bercabang.

Seputar Budidaya Walet

Budidaya walet dilaksanakan karena sarang burung walet dipercaya dapat menjadi obat yang ampuh untuk mengatasi berbagai macam penyakit. Sarang burung walet dipercaya kaya kandungan protein tinggi dan berbagai unsur mineral yang sangat bermanfaat bagi kesehatan dan membantu memelihara stamina tubuh.

Kesuksesan budidaya walet sangat tergantung pada pemilihan lokasi yang ideal.
Foto: www.indonetwork.co.id

Kesuksesan budidaya walet sangat tergantung pada pemilihan lokasi yang ideal. Lokasi terbaik budidaya walet memiliki syarat antara lain dilaksanakan pada daerah berketinggian hingga 1000 meter di atas permukaan laut, berupa daerah persawahan, padang rumput, daerah rawa, hutan terbuka, danau, sungai, dan pantai. Lokasi budidaya walet jauh dari gangguan hewan pemangsa seperti elang, rajawali, burung hantu, dan ular. Sementara, semut, kecoa, cicak, kutu busuk, tokek dan tikus merupakan hama penganggu sarang burung walet. Suara bising dari mesin dan polusi pabrik, asap kendaraan bermotor, dan keramaian juga dapat berpengaruh buruk bagi budidaya walet.

Budidaya walet membutuhkan suhu ruangan antara 26 hingga 29 derajat celsius dengan kelembaban berkisar 80 hingga 90 persen. Ada sejumlah trik yang digunakan dalam budidaya walet agar burung walet dapat segera menempati rumah budidaya. Rumah burung walet dapat dilengkapi dengan peralatan sound system yang memutar rekaman suara burung walet. Hal ini dilakukan untuk memancing burung walet muda agar mau tinggal dan membuat sarang.

Pelaku budidaya walet perlu mengetahui kapan waktunya burung walet membuat sarang karena hal ini berkaitan dengan masa panen sarang burung walet. Walet mulai membuat sarang pada usia satu tahun. Umumnya walet akan membangun sarang pada musim penghujan dimana pada saat itu di alam bebas tersedia banyak serangga yang menjadi pakan alami burung walet. Ketika mencari makan, burung walet dapat terbang hingga 50 kilometer dari sarang. Mereka berangkat pagi sekitar pukul tujuh dan kembali ke sarang pada petang hari hingga pukul delapan malam. Budidaya walet selain membutuhkan ketekunan dan kesabaran juga memerlukan keberuntungan untuk sukses. Rumah budidaya walet yang dibangun baik secara megah maupun sederhana akan didatangi dan ditinggali oleh walet jika dibangun dan dirawat dengan baik sehingga membuat walet merasa nyaman dan betah. Budidaya walet adalah potensi usaha yang bisa jadi pilihan.