Budidaya maggot atau larva lalat hitam patut dikembangkan menjadi salah satu bidang usaha rumah tangga dan dapat menjadi alternatif pemberdayaan warga, serta dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi sampah organik. Foto: media.spokesman.com

Budidaya Maggot dan Solusi Alternatif Pengelolaan Limbah Organik

March 10, 2017 - Tips Budidaya / Uncategorized

Budidaya maggot atau larva lalat hitam patut dikembangkan menjadi salah satu bidang usaha rumah tangga dan dapat menjadi alternatif pemberdayaan warga, serta dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi sampah organik.

Budidaya maggot bahkan diadopsi Pemerintah Kota Depok sebagai sistem mengurai sampah di bank sampah dan Unit Pengelolaan Sampah (UPS) yang ada di setiap kecamatan dan kelurahan di Kota Depok.

Keunggulan budidaya maggot dalam mengurai sampah yakni dapat membuat sampah tidak berbau sama sekali. Sebab maggot memiliki protein yang sangat tinggi. Hasil budidaya maggot dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan yang berkualitas.

Protein hasil budidaya maggot bahkan lebih tinggi daripada anak semut kroto. Maggot atau belatung kaya nutrisi, kandungan protein maggot mencapai 40%-46%. Kadar hasil budidaya maggot ini lebih tinggi ketimbang nilai protein pelet buatan, sekitar 20 – 25%. Protein penting bagi kelangsungan hidup unggas dan ikan, terutama untuk pertumbuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.

Asam amino yang dikandung oleh hasil budidaya maggot melalui Analisa Proksimat per 100 gram protein yang memang dibutuhkan oleh ikan.Methionine 0.83 gram, l-ys’ne 2.21 gram, Isoleudne 1.51 gram, Hlstidlne 0.96 gram, Leucme 2.61 gram, Phenylalanie 1.49 gram, valine 1.77 gram, l-AI’8’mne 1.77 gram, Threonine 1 .41 gram, dan Tryptophan 0.59 gram.

Bukan hanya sekadar manfaat dalam mengurai sampah, budidaya maggot juga bisa bernilai ekonomi bagi masyarakat. Kalau dijual hasil budidaya maggot bisa seharga Rp10.000 hingga Rp20.000/kilogram. Setiap ekor lalat hitam rata-rata menghasilkan 500 maggot dalam satu siklus hidupnya.

Dalam satu hari, 10.000 maggot mampu mengurai 1 kilogram sampah rumah tangga (sisa makanan) dalam 24 jam. Setelah itu nantinya maggot bisa menyisakan 200 gram sampah terurai yang biasa disebut bekas maggot (kasgot) yang dapat langsung dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Budidaya maggot atau larva lalat hitam patut dikembangkan menjadi salah satu bidang usaha rumah tangga dan dapat menjadi alternatif pemberdayaan warga, serta dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi sampah organik. Foto: media.spokesman.com

Budidaya maggot atau larva lalat hitam patut dikembangkan menjadi salah satu bidang usaha rumah tangga dan dapat menjadi alternatif pemberdayaan warga, serta dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi sampah organik. Foto: media.spokesman.com

Mengenal Media Budidaya Maggot

Budidaya maggot dapat menggunakan berbagai media bahan, akan tetapi masing2 bahan tentunya memiliki berbagai kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Budidaya maggot dapat menggunakan kombinasi dari media ampas tahu dengan talas/pepaya/tepung ikan, dedak yang dirangsang dengan ikan runcah, kotoran sapi dicampur dengan air cucian udang, ayam tiren dan berbagai bangkai dari sisa makanan/konsumsi hewan, bungkil kelapa dan kelapa sawit plus ikan asin, dan media sampah atau limbah organic lainnya.

Media budidaya maggot yang banyak direkomendasikan adalah menggunakan ampas tahu karena protein (23,55 persen), lemak (5,54 persen), karbohidrat (26,92 persen), abu (17,03 persen), serat kasar (16,53 persen), dan air (10,43 persen). Berdasarkan penelitian Pembiakan paling efektif jika ditambahkan 20 persen ikan asin dari berat ampas tahu.

Hal itu mengindikasikan bahwa lalat membutuhkan perbandingan ampas tahu dan ikan asin atau rucah dengan komposisi perbandingan tertentu secara tepat. Sebagian lagi ampas tahu dengan pepaya proteinnya bisa mencapai 44 %. Penelitian Purnama dekan Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto, Jawa Tengah menunjukkan maggot efektif bila diberikan bersama tepung ikan dengan perbandingan 1:1. Di sini laju pertumbuhan lele bakal melambung hingga 2,9% per hari.

Bila hanya maggot percepatan tumbuh 2,5% per hari; tepung ikan tunggal 2% per hari. Sedangkan pada ayam kerena kandungan protein dan lemak yang cukup tinggi itu menjadi pendongkrak pertumbuhan ayam dan efek yang tampak ayam menjadi semakin tinggi nafsu makannya.

Langkah Mudah Budidaya Maggot

Seperti dijelaskan di bagian sebelumnya, budidaya maggot dapat menggunakan media apapun. Namun pada bahasan kali ini, untuk memudahkan pemula, kami contohkan budidaya maggot yang menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat. Adapun bahan-bahan yang diperlukan untuk budidaya maggot yakni, media budidaya maggot berupa ember, drum, baskom, atau wadah lain. Kemudian, ampas tahu sebanyak 60 kilogram, bubuk ikan asin sebanyak 10 kilogram, kotoran ayam sebanyak 30 kilogram.

Adapun cara budidaya maggot yang akan dilakukan, pertama-tama masukkan ampas tahu sebagai bahan utama kedalam ember, lalu tambahkan air bersih dan aduk hingga rata. Selanjutnya, tambahkan ikan asin dan kotoran ayam, lalu tutup permukaannya dengan daun pisang kering agar lalat black soldier fly mau bertelur. Tempatkan ember atau wadah media budidaya maggot di tempat teduh dan terlindung dari air hujan.

Kemudian, setelah kira-kira 2-3 minggu atau bisa saja kurang dari itu, hasil budidaya maggot sudah siap dipanen. Pada budidaya maggot, cara pemanenan dilakukan dengan mencampurkan air pada media kultur, lalu saring untuk memisahkan media kultur dari belatung. Belatung hasil budidaya maggot siap diberikan sebagai pakan lele. Untuk bahan baku media kultur sebanyak 100 kg kira-kira akan dihasilkan belatung 60 -70 kg.

Perlu diperhatikan pelaku budidaya maggot, jangan menyimpan belatung segar hasil budidaya maggot terlalu lama karena bisa berubah menjadi lalat. (dari berbagai sumber).

Baca Juga:
Mengenal Cacing Sutra Serta Potensi Usaha Budidaya Cacing Sutra

Cara Membuat Uang Mengalir Dari Budidaya Kutu Air

› tags: Budidaya Maggot / limbah organik / Pakan ternak /