Pelaku budidaya ikan sepat di Indonesia umumnya mengenal jenis ikan sepat rawa dan ikan sepat siam. Foto: wiljo.se

Budidaya Ikan Sepat Pilihan Usaha Yang Tepat

December 12, 2015 - Tips Budidaya / Uncategorized

Hasil budidaya ikan sepat dapat digunakan untuk berbagai tujuan, seperti sebagai ikan segar untuk dikonsumsi, campuran daging ikan giling, dikeringkan, maupun diolah menjadi berbagai macam kuliner. Bagi masyarakat yang tinggal di daerah sungai maupun pesisir, hasil budidaya ikan sepat maupun ikan sepat hasil tanggapan diolah menjadi ikan asin, bekasam, dan lain sebagainya.

Budidaya ikan sepat juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ikan hias air tawar. Tentu saja jenis bibit budidaya ikan sepat untuk konsumsi berbeda dengan jenis ikan sepat yang dikembangkan untuk ikan hias. Pada kesempatan ini akan diperkenalkan ragam jenis ikan sepat dan potensi usaha budidaya ikan sepat.

Bagi masyarakat yang tinggal di daerah sungai maupun pesisir, hasil budidaya ikan sepat maupun ikan sepat hasil tanggapan diolah menjadi ikan asin, bekasam, dan lain sebagainya. Foto: www.123rf.com

Jenis Bibit Budidaya Ikan Sepat

Pada budidaya ikan sepat bibit yang digunakan disesuaikan dengan tujuan dari budidaya yang dilaksanakan. Pelaku budidaya ikan sepat harus mengetahui bahwa berdasarkan spesiesnya di dunia yang disusun oleh FishBase dan Integrated Taxonomic Information System (IT IS) ada beberapa jenis spesies ikan yang tergolong dalam genus trichogaster.

Spesies ikan sepat yang perlu dikenal oleh pelaku budidaya ikan sepat yaitu Trichogaster leeri atau ikan sepat mutiara, Trichogaster microlepis, Trichogaster pectoralis atau sepat siam, dan Trichogaster trichopterus atau ikan sepat rawa. Sementara satu spesies yang dinamai oleh FishBase dengan Trichogaster chuna dikelompokkan IT IS dalam marga Colisa sebagai Colisa chuna.

Pelaku dan peminat budidaya ikan sepat patut mengetahui bahwa spesies ini digolongkan ke dalam suku belontiidae, namun saat ini telah digolongkan ke dalam suku Osphronemidae, yang juga mencakup gurami dan sepat kerdil (Colisa). Trichogaster berkerabat dekat dengan marga Colisa, dimana anggota kedua marga ini sama-sama memiliki sirip perut berupa cambuk. Trichogaster memiliki sirip punggung yang relatif lebih pendek, dan individu dewasanya berukuran jauh lebih besar daripada Colisa

Pelaku budidaya ikan sepat di Indonesia umumnya mengenal jenis ikan sepat rawa dan ikan sepat siam. Foto: wiljo.se

Pelaku budidaya ikan sepat di Indonesia umumnya mengenal jenis ikan sepat rawa dan ikan sepat siam. Pelaku budidaya ikan sepat banyak menggunakan bibit ikan sepat siam karena jenis ikan ini mudah dan cepat berkembang biak. Ikan sepat rawa juga umum dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Ikan sepat rawa memiliki banyak varian dengan warna-warna yang cerah dan menarik sehingga sangat cocok pula untuk dijadikan sebagai ikan hias.

Untung Cepat Dari Budidaya Ikan Sepat

Budidaya ikan sepat merupakan pilihan usaha yang tepat bagi peternak ikan air tawar. Hasil budidaya ikan sepat memiliki nilai ekonomi yang cukup baik. Bagi masyarakat Indonesia ikan sepat yang ditangkap di alam bebas dan hasil budidaya ikan sepat merupakan salah satu sumber protein hewani yang mudah ditangkap atau pun diperoleh dengan harga yang terjangkau.

Sayangnya budidaya ikan sepat masih dipandang sebelah mata. Budidaya ikan sepat kurang diminati dikarenakan ikan sepat masih sangat mudah diketemukan di alam. Pemancing maupun penjala ikan dapat memperoleh ikan sepat baik di sungai, di danau, di rawa-rawa, bahkan dapat ditemukan di kolam atau tambak ikan dan udang yang sebenarnya ditujukan untuk memelihara ikan jenis lainnya.

Namun demikian budidaya ikan sepat tentu saja memiliki potensi untuk dikembangkan mengingat saat ini luasan lahan perairan dangkal maupun sungai dan rawa telah berkurang secara drastis yang berakibat pula semakin menurunnya hasil tanggapan ikan sepat. Foto: rawakusayangrawakumalang

Budidaya ikan sepat dapat menjadi pilihan usaha yang tepat karena ikan jenis ini sangat mudah beradaptasi di berbagai jenis perairan. Salah satu contoh sangat mudahnya budidaya ikan sepat dilakukan adalah ketika tahun 1937 ikan sepat jenis Trichogaster pectoralis atau sepat siam yang diintroduksi atau dilepasliarkan di Danau Tempe di Sulawesi telah dapat mendominasi danau hingga mencapai 70 persen dari populasi ikan di danau dalam tempo dua tahun saja.

Namun demikian budidaya ikan sepat tentu saja memiliki potensi untuk dikembangkan mengingat saat ini luasan lahan perairan dangkal maupun sungai dan rawa telah berkurang secara drastis yang berakibat pula semakin menurunnya hasil tanggapan ikan sepat (dari berbagai sumber).